IHSG Bergolak Hebat Awal Pekan Ini Ada Apa

IHSG Bergolak Hebat Awal Pekan Ini Ada Apa

haluannews.id – Pasar modal Indonesia mengawali pekan ini dengan penuh gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan IHSG sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan di awal perdagangan Senin 29 Juni 2026 namun tak lama kemudian kembali tertekan. Upaya bangkit dari keterpurukan pekan lalu tampaknya masih harus menghadapi berbagai tantangan berat.

COLLABMEDIANET

Pada pembukaan sesi pukul 09.00 WIB IHSG sempat melonjak 061 persen atau bertambah 3589 poin mencapai level 593203. Namun euforia itu hanya sesaat. Beberapa menit setelah pasar dibuka IHSG justru berbalik arah masuk ke zona merah dan terkoreksi hingga 024 persen.

IHSG Bergolak Hebat Awal Pekan Ini Ada Apa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Aktivitas transaksi di awal perdagangan cukup ramai dengan nilai mencapai sekitar Rp 11045 miliar. Sebanyak 14223 juta saham berpindah tangan dalam 23927 kali transaksi. Data menunjukkan 201 saham menguat 103 saham melemah dan 309 saham lainnya bergerak stagnan. Emiten-emiten yang paling banyak diperdagangkan antara lain BBCA BBRI BMRI DSSA dan MAPI.

Pekan ini investor akan disuguhkan serangkaian sentimen penting baik dari dalam maupun luar negeri. Fokus utama tertuju pada data inflasi Indonesia dan neraca perdagangan yang akan memberikan gambaran kesehatan ekonomi domestik. Di kancah global laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat sangat dinantikan karena berpotensi mengubah ekspektasi arah kebijakan suku bunga dunia.

Selain itu perkembangan konflik geopolitik juga akan terus menjadi sorotan. Investor juga akan mencermati data aktivitas manufaktur China inflasi kawasan Eropa serta pidato penting dari Gubernur The Fed Kevin Warsh. Seluruh rangkaian informasi ini diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar rupiah IHSG pasar obligasi hingga harga komoditas sepanjang pekan ini.

Di tengah ketidakpastian tersebut bursa saham Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada perdagangan Senin 29 Juni 2026. Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menyusul serangan terbaru antara Amerika Serikat AS dan Iran menjadi pemicu utama. Pelaku pasar kini khawatir akan potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan pasokan energi dunia.

Melansir haluannews.id indeks Nikkei 225 Jepang sempat melemah 035 persen di awal perdagangan sementara indeks Topix mampu menguat 043 persen. Pasar saham Korea Selatan mengalami tekanan signifikan dengan indeks Kospi anjlok 229 persen saat pembukaan. Namun indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru menunjukkan penguatan 097 persen. Sementara itu indeks acuan Australia S&P/ASX 200 naik 041 persen. Pergerakan yang beragam ini mencerminkan respons investor terhadap risiko geopolitik yang meningkat.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran. Aksi ini merupakan balasan atas serangan Teheran di sekitar Selat Hormuz jalur pelayaran minyak vital dunia. Presiden AS Donald Trump melalui unggahan di Truth Social bahkan mengancam Iran dengan menyebut pesawat militer AS telah menghantam lokasi penyimpanan rudal drone dan situs radar pesisir Iran.

Di sisi diplomatik upaya perundingan untuk meredakan konflik dilaporkan menemui jalan buntu. Sumber dari Pakistan yang terlibat dalam negosiasi menyebutkan bahwa pembicaraan saat ini ditangguhkan meskipun perwakilan dari semua pihak masih berada di Swiss untuk melanjutkan diskusi jika kondisi memungkinkan.

Dampak langsung dari ketegangan ini terlihat pada harga minyak dunia yang melonjak di awal perdagangan. Minyak Brent menguat 08 persen menjadi US$7257 per barel sementara West Texas Intermediate WTI naik 11 persen ke level US$70 per barel.

Di Amerika Serikat kontrak berjangka saham utama bergerak menguat meskipun pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik. Futures Dow Jones naik 02 persen S&P 500 menguat 04 persen dan Nasdaq-100 melonjak 05 persen.

Wall Street sendiri baru saja menutup pekan yang penuh dinamika dengan rotasi investasi keluar dari saham teknologi menuju sektor lain. Sepanjang pekan lalu S&P 500 terkoreksi hampir 2 persen dan Nasdaq Composite anjlok 46 persen. Berbeda dengan keduanya Dow Jones justru mencatat penguatan 06 persen.

Saham-saham teknologi raksasa menjadi sumber tekanan utama bagi pasar. Nvidia dan Alphabet masing-masing kehilangan lebih dari 8 persen sementara Meta Platforms Apple dan Amazon turun lebih dari 4 persen. Presiden Yardeni Research Ed Yardeni menilai investor mulai mengalami "kelelahan AI" atau AI fatigue. Menurutnya pasar mulai mempertanyakan apakah investasi besar-besaran perusahaan teknologi untuk infrastruktur kecerdasan buatan akan menghasilkan keuntungan yang sepadan di masa depan.

Pekan ini juga menandai akhir perdagangan bulan Juni. Hingga penutupan Jumat lalu S&P 500 tercatat turun sekitar 3 persen sepanjang bulan ini Nasdaq merosot lebih dari 6 persen sementara Dow Jones masih membukukan kenaikan lebih dari 1 persen.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar