haluannews.id – Pembukaan perdagangan saham di Jakarta pada Selasa pagi ini diwarnai tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menguat pada sesi sebelumnya, kini harus menghadapi gelombang sentimen negatif global yang kuat, menyebabkan koreksi tajam dan memupus optimisme pelaku pasar.

Related Post
Pada awal sesi, IHSG dibuka di level 5.984,18, hanya turun tipis 0,04% dari penutupan sebelumnya di 5.986,50. Namun, euforia sesaat itu tak bertahan lama. Beberapa menit setelah pasar dibuka, tekanan jual semakin mendominasi, menyeret IHSG anjlok lebih dalam hingga nyaris 1% atau tepatnya 0,90%, bertengger di level 5.932. Total nilai transaksi mencapai Rp 163,45 miliar dengan volume perdagangan 239 juta saham dari 42.706 kali transaksi. Tercatat 187 saham menguat, 173 melemah, dan 263 lainnya bergerak stagnan.

Kondisi pasar keuangan domestik hari ini diperkirakan akan terus dihantam badai sentimen negatif dari berbagai penjuru dunia. Salah satu pemicu utama adalah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan melancarkan serangan terhadap Iran dan mencabut lisensi yang sebelumnya memungkinkan Teheran menjual minyak di pasar internasional. Langkah ini diambil menyusul insiden penyerangan tiga kapal tanker di Selat Hormuz, yang semakin mengancam gencatan senjata yang rapuh. Iran mengecam keras keputusan Washington, menyebutnya sebagai pelanggaran kesepakatan damai sementara, dan berjanji akan mengambil langkah balasan. Imbasnya, harga minyak dunia langsung melonjak lebih dari 3%.
Tekanan lain datang dari S&P Dow Jones Indices yang memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (watchlist) tahun 2027. Bersama Turki dan Nigeria, Indonesia berpotensi mengalami reklasifikasi status pasar modal. Saat ini, Indonesia berstatus Emerging Market (Pasar Berkembang), namun dalam evaluasi 2027, ada kemungkinan direklasifikasi menjadi Special Measures/Frontier. Keputusan ini masih dalam tahap pengawasan, namun cukup untuk menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Di sisi lain, mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik juga kompak melemah pada perdagangan Rabu. Ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan sentimen investor global. Di Jepang, indeks Nikkei 225 merosot 0,55% dan Topix terkoreksi 0,7%. Pasar Korea Selatan juga terpuruk, dengan Kospi melemah 0,72% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq anjlok 1,94%. Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 juga tak luput dari koreksi, turun 1,36%.
Pelemahan ini mengikuti tren serupa di Wall Street pada perdagangan Selasa waktu setempat. Investor melakukan aksi ambil untung pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI), sementara kenaikan harga minyak turut membebani pasar. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun lebih dari 100 poin, S&P 500 melemah 0,5%, dan Nasdaq Composite anjlok 1,2%. Fokus investor kini beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang dijadwalkan rilis pada Rabu pukul 14.00 waktu AS. Dokumen ini diharapkan memberikan gambaran lebih rinci mengenai kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama terkait potensi kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi terus berlanjut.










Tinggalkan komentar