Haluannews Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 1,7% pada sesi I perdagangan Senin (23/6/2025), menutup perdagangan siang hari di level 6.789,71. Penurunan drastis sebesar 117,43 poin ini diiringi oleh aksi jual besar-besaran yang melibatkan 13,19 miliar saham dalam 807.285 kali transaksi, dengan nilai transaksi mencapai Rp 7,54 triliun. Kapitalisasi pasar pun ikut merosot menjadi Rp 11.907,98 triliun.

Related Post
Seluruh sektor saham terjerembab ke zona merah. Sektor utilitas mengalami penurunan paling tajam, mencapai 4,13%, disusul sektor properti (-3,11%) dan energi (-2,47%). Emiten tambang Sinar Mas (DSSA) menjadi salah satu penekan utama IHSG dengan penurunan 5,83% dan kontribusi negatif sebesar -13,36 poin indeks. Emiten energi terbarukan BREN juga turut menekan IHSG dengan kontribusi -10,45 poin indeks, diikuti BBRI yang menyumbang -9,18 poin indeks.

Sentimen negatif yang melanda pasar saham domestik tak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas nuklir Iran yang diumumkan Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran global. Situasi semakin memanas dengan ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran utama minyak dunia. Ancaman penutupan ini berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak mentah hingga US$ 240 per barel (proyeksi Macquaite), atau setidaknya US$ 100 per barel (Goldman Sachs dan Rapidan Energy), yang berdampak pada inflasi global dan mengakibatkan sikap risk-off di pasar. Hal ini diperparah dengan rilis data ekonomi yang memperkuat sikap hawkish The Fed.
Harga minyak dunia sendiri telah melonjak 11% sejak perang Iran vs Israel meletus pada 13 Juni 2025. Kenaikan harga minyak berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi dan memperlambat prospek penurunan suku bunga, mengakibatkan investor beralih ke aset safe haven seperti emas.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar