Haluannews Ekonomi – Jakarta – Setelah suksesnya fenomena olahraga padel yang menghebohkan Indonesia, kini sorotan beralih pada Hyrox, sebuah disiplin kebugaran baru yang diprediksi akan menjadi sumber cuan triliunan rupiah. Olahraga ini tidak hanya menjanjikan tantangan fisik, tetapi juga ekosistem bisnis yang menggiurkan, menarik perhatian investor dan pelaku ekonomi.

Related Post
Popularitas Hyrox melonjak signifikan setelah mantan pesepak bola nasional Irfan Bachdim mencetak rekor Indonesia pada kompetisi HYROX Hongkong 2024. Tak hanya itu, bintang K-Pop Choi Minho dari SHINee juga menjuarai HYROX Taipei 2026, semakin memicu minat publik dan media terhadap olahraga kebugaran berintensitas tinggi ini.

Dini Dwi Kusumaningrum, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam artikelnya yang dimuat di The Conversation, menjelaskan bahwa Hyrox bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. "Jika padel berkembang dari tenis, hyrox memadukan lari dengan berbagai latihan kekuatan dan fungsional yang selama ini dikenal dalam dunia kebugaran dan gimnastik," kata Dini, seperti dikutip dari The Conversation. Dikembangkan sejak 2017 oleh olimpian Moritz Fürste dan Christian Toetzke, Hyrox dirancang agar dapat diikuti oleh siapa saja, tanpa batasan kualifikasi, waktu, maupun usia.
Formatnya seragam di seluruh dunia: setiap pertandingan mengharuskan peserta menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer, yang diselingi delapan stasiun latihan menantang seperti SkiErg, burpee, atau rowing. Keseragaman ini menciptakan rasa kebersamaan global di antara para pesertanya, baik amatir maupun profesional, yang merasa terhubung melalui minat pada kebugaran dan kepuasan menantang diri sendiri.
Ajang Hyrox kini menjadi magnet bagi kalangan elite gym, komunitas ekspatriat, profesional korporat, hingga influencer kebugaran. Bagi kaum urban yang terbiasa dengan gaya hidup serba cepat, Hyrox merefleksikan prinsip kedisiplinan, produktivitas, dan performa yang mereka junjung. Promosi masif di media sosial menjadikan Hyrox tampil estetik, sinematik, dan dramatis, mencerminkan ‘performative health’. Video sled push, foto arena penuh musik, garis finis, dan papan peringkat membanjiri lini masa, menjadi bagian dari identitas digital para pesertanya.
Potensi Cuan Triliunan dari Ekosistem Hyrox
Di balik gemerlapnya arena kompetisi, Hyrox menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Per tahun lalu, omzet bisnis Hyrox global mencapai sekitar US$140 juta, setara dengan Rp2,34 triliun, dengan ekosistem industri yang menjangkau 11 negara dan 85 perhelatan. Jaringan bisnis ini mencakup ‘race-cation’ berupa akomodasi seperti hotel dan maskapai penerbangan kelas atas, ragam produk komersial turunan seperti ransel Hyrox yang menunjukkan status finis, hingga merchandise eksklusif.
Potensi pendapatan juga mengalir dari lisensi gym dan pelatihan (coaching), dengan rata-rata pemasukan bisa mencapai £84 juta atau sekitar Rp1,6 triliun per tahun. Angka ini menegaskan betapa besarnya ceruk bisnis yang bisa digali dari fenomena ini. Dini mengutip data dari Business of Sport on Spotify yang memproyeksikan nilai bisnis ekosistem Hyrox setidaknya mencakup omzet tiket peserta bisa mencapai Rp1,52 triliun, tiket penonton sekitar Rp134,4 miliar, dokumentasi Rp282,1 miliar, afiliasi pusat kebugaran Rp126 miliar, dan penjualan suvenir setidaknya Rp220 miliar.
Melihat perkembangannya, Hyrox memenuhi syarat untuk dikembangkan menjadi ‘sport capitalism’ atau komersialisasi olahraga. Pengalaman dan emosi yang dirasakan peserta—mulai dari kelelahan, kebanggaan, hingga adrenalin saat menyelesaikan perlombaan—kemudian dikomodifikasi untuk memengaruhi orang lain agar turut serta. Proses komodifikasi Hyrox dilakukan dengan memposisikan kebugaran sebagai produk konsumsi berorientasi performa dan estetika, di mana tubuh dipertontonkan sebagai simbol status baru di media sosial.
Tren ini diperkuat oleh animo masyarakat Indonesia terhadap latihan beban yang sudah positif. Per 2020, jumlah gym dan pusat kebugaran baru di Indonesia mencapai 8.156 lokasi atau 67,75% dari total gym di Indonesia, membentuk basis potensial yang kuat untuk pengembangan Hyrox.
Arah Perkembangan Hyrox di Indonesia
Kemunculan Hyrox di Indonesia merupakan bagian dari fase baru dalam evolusi budaya kebugaran kaum urban yang membentuk segmentasi kelasnya sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebugaran tidak lagi netral, melainkan terhubung dengan status, identitas, dan tekanan performa di ruang urban, sebuah warisan dari pandemi Covid-19 yang meningkatkan animo masyarakat dalam memaknai kesehatan.
Meskipun masih terlalu dini untuk menilai keberlanjutan Hyrox di dalam negeri, banyak peserta dari Indonesia rela terbang ke luar negeri demi mengikuti kompetisi Hyrox resmi. Tantangan ke depan adalah bagaimana menggeser narasi dari sekadar performa menuju kesehatan yang lebih inklusif dan berkeadilan sosial, mengingat akses terhadap fasilitas gym lengkap dan estetik masih menjadi kendala finansial bagi sebagian besar masyarakat.
Dengan potensi omzet triliunan dan daya tarik yang kian meningkat, Hyrox bukan hanya sekadar tren olahraga, melainkan sebuah fenomena ekonomi baru yang siap mengubah lanskap industri kebugaran global, termasuk di Indonesia.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar