haluannews.id – Setelah sempat terjun bebas lebih dari lima persen sehari sebelumnya, harga minyak mentah global kembali menunjukkan geliat kenaikan tipis pada perdagangan Rabu (5/8) pagi. Kebangkitan ini terjadi di tengah pasar yang terus memantau perkembangan negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, yang sebelumnya memicu optimisme berlebihan dan menekan harga.

Related Post
Mengutip data dari Refinitiv per pukul 09.05 WIB, kontrak minyak Brent untuk pengiriman terdekat tercatat di angka US$79,66 per barel, menguat 0,38% dibandingkan penutupan hari Selasa yang berada di US$79,36 per barel. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan tipis 0,16% menjadi US$75,89 per barel, dari posisi penutupan sebelumnya di US$75,77 per barel.

Kenaikan pagi ini menjadi penyeimbang setelah pasar minyak mengalami koreksi tajam. Pada perdagangan Selasa, Brent anjlok 5,3% ke level US$79,36 per barel, mencapai titik terendah sejak 13 Juli. Sementara itu, WTI bahkan terperosok lebih dalam, 5,7%, ke US$75,77 per barel, menjadi posisi terendah dalam sekitar tiga pekan terakhir.
Aksi jual masif tersebut dipicu oleh pernyataan sejumlah pejabat AS dan Qatar yang mengisyaratkan kemajuan signifikan dalam pembicaraan terkait Iran. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat menyatakan adanya perkembangan dalam negosiasi dengan Iran dan Oman mengenai peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, meskipun kesepakatan final belum tercapai. Bahkan, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengindikasikan peluang pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut dalam waktu dekat.
Dari Doha, Kementerian Luar Negeri Qatar turut mengonfirmasi bahwa upaya pencarian solusi diplomatik masih terus berjalan. Emir Qatar dan Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah membahas langkah-langkah untuk meredakan ketegangan dan menyelaraskan posisi Washington dengan Teheran. Harapan akan solusi diplomatik ini sontak membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang selama berbulan-bulan menjadi penopang harga minyak. Jika pembicaraan ini membuahkan hasil, gangguan pasokan dari kawasan Teluk diperkirakan akan berkurang, sehingga tekanan terhadap harga minyak dapat berlanjut.
Namun, di balik optimisme tersebut, kondisi di lapangan belum banyak berubah. Arus kapal melalui Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb masih berada pada level yang sangat rendah. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelum konflik mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia, masih membatasi ekspor energi dari kawasan tersebut. Bahkan, Kepala perusahaan minyak raksasa Arab Saudi, Aramco, mengungkapkan bahwa dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel pasokan minyak sejak perang Iran pecah pada Februari lalu.
Sebelum koreksi tajam pekan ini, harga minyak sempat melonjak drastis hingga menembus US$100,69 per barel untuk Brent pada 23 Juli. Namun, dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, Brent telah terkoreksi lebih dari 20% hingga kembali ke kisaran US$79 per barel. Ini mencerminkan perubahan ekspektasi pasar yang sangat cepat terhadap risiko pasokan global.
Di tengah volatilitas yang tinggi ini, Tim Riset haluannews.id masih sejalan dengan perkiraan Goldman Sachs yang memproyeksikan Brent akan bergerak dalam kisaran US$80-90 per barel. Prediksi ini akan bertahan sampai ada kepastian mengenai kesepakatan baru antara AS dan Iran, atau jika terjadi eskalasi konflik yang lebih besar di kawasan tersebut.










Tinggalkan komentar