Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan Indonesia masih dihantui tekanan jual yang masif, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga level 5.600 dan nilai tukar Rupiah ambruk menyentuh Rp 18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni lalu. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas ekonomi domestik.

Haluannews Ekonomi - Pasar keuangan Indonesia masih dihantui tekanan jual yang masif, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga level 5.600 dan nilai tukar Rupiah ambruk menyentuh Rp 18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni lalu. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas ekonomi domestik.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menyoroti bahwa pelemahan Rupiah yang signifikan ini merupakan cerminan dari kombinasi tekanan eksternal dan internal yang kuat. Menurutnya, kondisi ini bahkan membuat efektivitas kebijakan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) terasa kurang optimal dalam menahan laju depresiasi mata uang Garuda.

COLLABMEDIANET

Dari sisi domestik, Rudiyanto menjelaskan, musim pembagian dividen oleh emiten-emiten besar yang banyak dimiliki investor asing menjadi salah satu pemicu utama. Fenomena ini secara alami meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS, menciptakan tekanan jual pada Rupiah. Di pasar saham, tekanan jual kian menguat lantaran investor cenderung mencari Dolar AS sebagai langkah diversifikasi investasi, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang membayangi.

Haluannews Ekonomi - Pasar keuangan Indonesia masih dihantui tekanan jual yang masif, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga level 5.600 dan nilai tukar Rupiah ambruk menyentuh Rp 18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni lalu. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas ekonomi domestik.
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tak hanya itu, sektor obligasi juga tak luput dari hantaman. Rudiyanto mengungkapkan bahwa menurunnya kepercayaan investor, baik asing maupun lokal, terhadap tata kelola pemerintahan serta komunikasi publik yang kurang efektif dari pemerintah Indonesia, turut memicu arus modal keluar (capital outflow) yang signifikan dari pasar obligasi. Ini mengindikasikan adanya keraguan terhadap prospek investasi jangka panjang di tengah dinamika politik dan kebijakan.

Analisis mendalam mengenai dinamika pasar keuangan dan pandangan Manajer Investasi terhadap tekanan Rupiah serta pelemahan IHSG ini telah dibahas tuntas dalam dialog eksklusif Andi Shalini dengan Rudiyanto di program Power Lunch, Haluannews.id, pada Kamis, 4 Juni lalu.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar