Guncangan Global: Timur Tengah Memanas, Bursa Asia Berdarah!

Guncangan Global: Timur Tengah Memanas, Bursa Asia Berdarah!

Haluannews Ekonomi – Gelombang merah menyapu bursa saham Asia pada perdagangan hari ini, dipicu oleh kombinasi kekhawatiran investor terhadap lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif yang mendalam di pasar keuangan global.

COLLABMEDIANET

Indeks-indeks utama di berbagai negara Asia menunjukkan pelemahan signifikan. Di Jepang, Indeks Nikkei 225 anjlok 0,88%, diikuti oleh Topix yang merosot 0,75%. Kondisi serupa terlihat di Korea Selatan, di mana Indeks Kospi melemah 0,52% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq bahkan terjun lebih dalam sebesar 2,15%. Pasar saham Australia juga tak luput dari tekanan, dengan indeks S&P/ASX 200 kehilangan 0,5% nilainya. Sementara itu, kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong diperdagangkan di level 25.603, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.797,85, mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut.

Guncangan Global: Timur Tengah Memanas, Bursa Asia Berdarah!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen pasar global terguncang hebat menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengungkapkan bahwa ia nyaris memerintahkan serangan militer ke Iran, hanya "satu jam" sebelum akhirnya menunda keputusan krusial tersebut. Pernyataan ini, sebagaimana dilaporkan oleh Haluannews.id, sontak memicu kekhawatiran akan potensi konflik berskala besar yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global dan pasokan energi.

Selain faktor geopolitik, tekanan signifikan juga berasal dari pasar obligasi Amerika Serikat. Para investor terpantau terus melepas kepemilikan surat utang pemerintah, didorong oleh spekulasi dan kekhawatiran akan akselerasi inflasi. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 30 tahun sempat melonjak drastis hingga menyentuh level 5,197%, rekor tertinggi sejak Juli 2007, sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran 5,174%. Lonjakan imbal hasil ini secara langsung mempersempit ruang gerak penguatan pasar saham global, mengingat ekspektasi biaya pinjaman yang akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama, menekan profitabilitas korporasi dan daya tarik investasi ekuitas.

Meskipun demikian, di Wall Street, kontrak berjangka saham AS menunjukkan sedikit penguatan pada awal sesi, memberikan sedikit harapan di tengah sentimen negatif. Kontrak berjangka S&P 500 tercatat naik 0,14%, diikuti Nasdaq 100 yang menguat 0,25%, dan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 55 poin atau 0,11%. Namun, perlu dicatat bahwa pada penutupan perdagangan semalam, bursa saham AS justru berakhir di zona merah. Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan selama tiga sesi berturut-turut, anjlok 0,67% ke level 7.353,61. Nasdaq Composite juga tertekan 0,84% menjadi 25.870,71, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 322,24 poin atau 0,65%, ditutup pada 49.363,88. Pelemahan ini tak lain disebabkan oleh lonjakan imbal hasil obligasi yang terus membayangi prospek pasar bullish.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar