Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan domestik kembali diwarnai ketegangan saat nilai tukar rupiah dibuka melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi hanya beberapa jam menjelang pengumuman krusial keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) yang sangat dinantikan pelaku pasar.

Related Post
Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, rupiah memulai sesi perdagangan di level Rp17.730 per dolar AS, mencatat penurunan sebesar 0,20%. Angka ini melanjutkan tren tekanan yang telah terjadi pada hari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, mata uang Garuda telah ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp17.695 per dolar AS. Posisi tersebut merupakan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah rupiah, memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat naik 0,07% ke level 99,398, menandakan dominasi dolar yang semakin kuat di pasar global.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan sangat bergantung pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait suku bunga acuan. Keputusan yang akan diumumkan siang nanti menjadi agenda paling penting yang ditunggu-tunggu pelaku pasar, terutama di tengah tekanan berat yang menghantam rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Haluannews.id telah melakukan survei terhadap 15 lembaga/institusi keuangan terkemuka untuk memprediksi arah kebijakan BI. Hasilnya menunjukkan mayoritas, yakni sembilan lembaga, memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,00%. Sementara itu, enam lembaga lainnya memproyeksikan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
Konsensus pasar kini cenderung melihat kenaikan suku bunga sebagai skenario paling mungkin pada RDG kali ini. Tekanan terhadap rupiah yang semakin besar, ditambah dengan meningkatnya risiko eksternal yang memengaruhi perekonomian global, dinilai telah mempersempit ruang gerak BI untuk mempertahankan suku bunga.
Jika hasil RDG kali ini sesuai dengan mayoritas ekspektasi, maka ini akan menandai kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali BI melakukan penyesuaian suku bunga terjadi pada April 2024, ketika bank sentral mengerek BI-Rate sebesar 25 basis poin dari 6,00% menjadi 6,25%.
Selain keputusan BI, pelaku pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah. Kementerian Keuangan melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp164,4 triliun atau setara dengan 0,64% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per 30 April 2026. Angka defisit ini menunjukkan perbaikan dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap PDB. Penurunan defisit ini sebagian besar ditopang oleh penerimaan perpajakan yang masih menunjukkan pertumbuhan dua digit.
"Defisit kita membaik, dari 0,93% pada Maret menjadi 0,64% di April. Jika dihitung secara sederhana, setahun bisa sekitar 1,8% dari PDB. Namun, tentu analisisnya tidak sesederhana itu," ungkap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (19/5/2026), memberikan gambaran mengenai dinamika fiskal negara.
Dengan semua faktor ini, mata seluruh pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman Bank Indonesia siang nanti, menanti langkah yang akan diambil untuk meredam gejolak di pasar keuangan.
Editor: Rohman









Tinggalkan komentar