haluannews.id – Raksasa teknologi Indonesia GoTo Gojek Tokopedia GOTO baru-baru ini menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International MSCI memutuskan untuk mengeluarkan sahamnya dari daftar indeks global. Namun di balik kabar yang mungkin terdengar kurang menyenangkan ini para analis justru melihatnya sebagai murni aspek teknis bukan cerminan fundamental perusahaan.

Related Post
Aditya Prayoga seorang Analis Saham dari Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa keputusan indeks untuk mendepak suatu saham akan otomatis memicu penjualan dari pengelola dana pasif. Dana-dana ini memang meramu portofolio berdasarkan konstituen indeks yang mereka jadikan acuan. Jadi jika ada perubahan komposisi mereka wajib menyesuaikan.

"Ini lebih ke aspek teknis saja. Harga saham GOTO yang stagnan di level Rp50 selama tiga bulan terakhir telah membuat likuiditas perdagangan menjadi kering dan sulit bagi investor untuk melakukan transaksi," ungkap Aditya.
Data historis perdagangan menunjukkan penurunan drastis. Sebelum menyentuh angka Rp50 rata-rata transaksi harian GOTO di pasar reguler bisa mencapai Rp300-400 miliar. Namun dalam beberapa bulan terakhir angka itu merosot tajam bahkan belakangan hanya berkisar Rp3 miliar per hari. Sebuah penurunan yang signifikan.
Aditya menambahkan bahwa investor GOTO sangat beragam tidak hanya bergantung pada dana pasif. Ada investor strategis investor ritel dan investor aktif yang justru melihat peluang akumulasi saat harga dianggap murah. Oleh karena itu keluarnya GOTO dari indeks global ini tidak akan serta-merta mengubah strategi atau keputusan investor jenis lainnya.
Dari sisi fundamental justru GOTO menunjukkan tren perbaikan yang signifikan. Perusahaan ini berhasil mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal pertama 2026 GOTO membukukan laba bersih Rp171 miliar dan meningkat 47% menjadi Rp252 miliar di kuartal kedua. Total laba bersih di paruh pertama 2026 mencapai Rp423 miliar.
"Dengan pendapatan yang tumbuh dua digit laba bersih positif margin yang semakin tebal dan arus kas yang sehat jelas tidak ada masalah fundamental pada GOTO," tegas Aditya. Ia juga menyoroti bahwa meskipun indeks global seperti FTSE dan MSCI mengeluarkan GOTO indeks domestik seperti IDX30 LQ45 dan IDX80 masih mempertahankan saham tersebut.
"Ini berarti dana lokal seperti reksadana dana pensiun dan asuransi yang menggunakan indeks-indeks tersebut masih bisa bertahan di GOTO. AUM mereka juga besar jadi tidak semua investor akan menjual sahamnya," pungkas Aditya.
Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny sebelumnya juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mencermati keputusan MSCI. Ia mengakui kabar ini kurang menyenangkan namun menegaskan bahwa keputusan tersebut murni bersifat teknis menyusul harga saham GOTO di level terendah Rp50 dan volume perdagangan yang rendah bukan karena kinerja perseroan.
Audrey menambahkan bahwa GOTO mencatatkan laba bersih dua kuartal berturut-turut dengan pendapatan bersih mencapai Rp5,7 triliun. EBITDA Grup yang disesuaikan bahkan menembus angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya di kuartal II-2026. Perseroan optimis tetap dalam jalur target kinerja tahunan dengan proyeksi EBITDA Grup yang disesuaikan Rp3,2-3,4 triliun.
"Kami akan terus menjalin dialog aktif dengan MSCI dan fokus mengelola bisnis untuk menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham," tutup Audrey.










Tinggalkan komentar