Haluannews Ekonomi – Jakarta – PT Bank Mega Syariah (BMS) menunjukkan kinerja gemilang di awal tahun 2026, terutama pada segmen pembiayaan konsumer. Kebutuhan masyarakat akan solusi pembiayaan ritel dan investasi jangka panjang yang meningkat menjadi pendorong utama. Hingga April 2026, portofolio konsumer BMS melampaui Rp 586 miliar, menandai pertumbuhan impresif lebih dari 23% secara tahunan (Year-on-Year/YoY).

Related Post
Kontribusi terbesar terhadap portofolio konsumer datang dari Area 1, meliputi Jakarta dan sekitarnya, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 202,7 miliar. Disusul oleh Area 4 sebesar Rp 122,9 miliar, dan Area 3 dengan Rp 98 miliar, menunjukkan penetrasi pasar yang merata di berbagai wilayah.

Lonjakan ini tak lepas dari peran signifikan pembiayaan emas melalui produk Flexi Gold. Produk ini mencatatkan outstanding lebih dari Rp 31 miliar per April 2026, melonjak drastis lebih dari 1.236% sejak awal tahun (Year-to-Date/YtD). Menariknya, pertumbuhan pesat ini diiringi dengan kualitas aset yang tetap prima, tercermin dari rasio Non-Performing Financing (NPF) yang stabil di level 0%.
Benadicto Alvonzo Ferary, Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, menjelaskan bahwa tren ini mengindikasikan tingginya permintaan masyarakat akan pembiayaan yang fleksibel dan terencana. "Pembiayaan konsumer kini tidak hanya untuk kebutuhan sesaat, melainkan juga mulai diarahkan untuk mendukung perencanaan finansial jangka panjang. Kami melihat minat masyarakat terhadap kepemilikan emas melalui skema cicilan terus menguat dalam beberapa bulan terakhir," ungkap Benadicto kepada Haluannews.id.
Selain mendorong pertumbuhan pembiayaan, segmen konsumer juga memberikan dampak positif pada pendapatan perusahaan. Pada April 2026, pendapatan dari segmen konsumer mencapai Rp 5,4 miliar, tumbuh 12,28% dibanding bulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, total pembiayaan yang disalurkan BMS menembus angka lebih dari Rp 9,26 triliun, meningkat lebih dari 7,2% dari posisi akhir tahun sebelumnya yang sebesar Rp 8,64 triliun. Sejalan dengan ekspansi pembiayaan, pendapatan dari piutang melonjak menjadi lebih dari Rp 118 miliar, tumbuh sekitar 40,9% hingga kuartal I 2026. Pendapatan bagi hasil juga mencatat kenaikan sekitar 4,7%, mencapai lebih dari Rp 114,73 miliar.
Di lini laba bersih, BMS berhasil membukukan laba sebelum pajak lebih dari Rp 79,97 miliar hingga Maret 2026. Angka ini merepresentasikan peningkatan signifikan lebih dari 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan kinerja ini utamanya ditopang oleh pertumbuhan pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp 191,60 miliar, naik lebih dari 20%.
Ke depan, Bank Mega Syariah berkomitmen untuk terus memperkuat segmen pembiayaan konsumer. Ini akan dilakukan melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar serta perluasan jangkauan layanan di berbagai daerah. "Kami akan terus memastikan pertumbuhan pembiayaan konsumer yang sehat dan berkelanjutan, termasuk melalui produk pembiayaan emas syariah yang semakin diminati masyarakat," pungkas Benadicto.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar