Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (10/4/2026) pagi. Berdasarkan data Refinitiv yang dihimpun Haluannews.id, mata uang Garuda sempat terdepresiasi 0,18% ke level Rp17.110/US$ dan ditutup pada posisi Rp17.105/US$ hingga pukul 09.47 WIB. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar dan ekonom.

Related Post
Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, menyoroti bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama di balik tekanan terhadap rupiah. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan rencana gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel menciptakan sentimen negatif yang kuat di pasar keuangan global. "Harga-harga minyak naik, kemudian pelemahan mata uang rupiah juga cukup tajam, sehingga Indonesia membutuhkan dolar yang cukup banyak," terang Ibrahim kepada Haluannews.id.

Indonesia, sebagai importir minyak mentah dalam jumlah besar, yakni sekitar 800-900 ribu barel per hari, sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga komoditas energi ini secara otomatis meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor, yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah. Ibrahim memproyeksikan, jika konflik di Timur Tengah tidak mereda dalam dua minggu ke depan, rupiah berpotensi besar menembus level Rp17.300 per dolar AS pada kuartal II-2026. "Di kuartal kedua kemungkinan besar di Rp17.300/US$ ya, itu kemungkinan besar akan tercapai," tegasnya.
Lebih lanjut, Ibrahim mengkritisi kebijakan fiskal pemerintah yang dinilainya kurang adaptif menghadapi tekanan eksternal. Dalam kondisi rupiah melemah dan harga energi melonjak, pemerintah masih mempertahankan harga BBM domestik, sementara belanja besar seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) atau yang disebut MBG, program Koperasi Merah Putih, dan pembelian alutsista tetap berjalan. "Seharusnya dalam kondisi ekonomi seperti ini tidak baik-baik saja, ya MBG itu harus dikurangi. Ya, atau di-stop untuk sementara. Kemudian Koperasi Merah Putih pun juga di-stop dulu. Ya, pembelian alutsista pun juga harus dikurangi," ujarnya.
Namun, perspektif yang sedikit berbeda disampaikan oleh Myrdal Gunarto, Global Markets Economist di Maybank Indonesia. Menurutnya, pelemahan rupiah hingga level Rp17.100 per dolar AS saat ini belum memberikan tekanan yang signifikan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Kalau hanya dari nilai tukar rupiah saja ya karena kita hitung sih masih kurang dari Rp5 triliun ya sekitar Rp4,2 triliunan terkait dengan defisit yang ditimbulkan karena pelemahan nilai tukar rupiah," jelas Myrdal kepada Haluannews.id.
Meski demikian, Myrdal mengingatkan bahwa dampak lanjutan yang lebih luas justru perlu diwaspadai. Depresiasi rupiah berpotensi memperbesar beban impor, terutama untuk komoditas energi. Jika harga minyak dunia bertahan di atas US$70 per barel, tekanan terhadap fiskal Indonesia dapat meningkat tajam. Selain itu, Myrdal juga menyoroti faktor musiman yang kerap membuat rupiah melemah antara April hingga Juli, didorong oleh peningkatan permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen dan jatuh tempo utang luar negeri. Kondisi ini diperparah jika harga minyak tetap tinggi, yang dapat mengubah neraca perdagangan dari surplus menjadi defisit.
Terkait pembiayaan bunga utang, Myrdal menilai risiko ini masih dapat dimitigasi melalui strategi lindung nilai (hedging) yang dilakukan pemerintah maupun pihak swasta. Ia memprediksi, jika konflik di Timur Tengah berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka, rupiah berpotensi kembali menguat di bawah level Rp17.000 per dolar AS. Namun, jika eskalasi konflik terus berlanjut, rupiah bisa mencapai level sekitar Rp17.248 per dolar AS. Para pelaku pasar dan pembuat kebijakan diimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan strategi mitigasi risiko di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar