haluannews.id – Rupiah tampil perkasa mengawali pekan perdagangan ini dengan melesat di hadapan dolar Amerika Serikat. Berdasarkan data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Senin 3 Agustus 2026, mata uang Garuda langsung tancap gas menguat 0,22% ke level Rp17.950 per dolar AS. Performa cemerlang ini melanjutkan tren positif yang telah terlihat pada penutupan pekan sebelumnya, di mana rupiah berhasil menembus kembali batas psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Related Post
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah signifikan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tergelincir 0,22% ke posisi 99,697. Tekanan terhadap dolar AS ini tak lepas dari intervensi pasar valuta asing yang dilakukan Jepang dan Amerika Serikat secara bersamaan untuk menopang yen, yang sebelumnya berada di titik terlemahnya dalam empat dekade terakhir.

Kementerian Keuangan Jepang telah mengonfirmasi langkah intervensi pembelian yen pada Jumat pekan lalu. Data dari Bank of Japan (BOJ) juga mengindikasikan bahwa Jepang kemungkinan besar telah menggelontorkan dana sekitar US$58,97 miliar untuk membeli yen pada Kamis sebelumnya. Manuver ini sontak membuat yen melonjak 1% hingga menyentuh 156,01 per dolar AS pada perdagangan pagi di Asia, bahkan melambung lebih dari 3% dalam dua hari perdagangan terakhir.
Penguatan yen yang drastis ini turut menyeret dolar AS ke jurang pelemahan. Sepanjang pekan lalu, DXY tercatat merosot lebih dari 1,5% dan kembali bergerak di bawah level 100 pada perdagangan pagi ini, menandakan tekanan serius bagi mata uang Negeri Paman Sam.
Sementara itu, dari ranah domestik, para pelaku pasar tengah menanti pengumuman data inflasi Juli 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan hari ini. Konsensus pasar yang dihimpun oleh haluannews.id dari dua belas institusi terkemuka memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) akan mengalami inflasi sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 3,2%, sedikit melandai dari bulan sebelumnya. Inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,77% secara tahunan, menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan Juni. Meredanya tekanan inflasi umum ini terutama ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri bahkan memperkirakan kelompok makanan bergejolak (volatile food) akan mengalami deflasi sebesar 1,12% secara bulanan, berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.
"Kami memperkirakan harga volatile food turun 1,12% secara bulanan, terutama didorong oleh penurunan harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki puncak musim panen," ungkap Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri. Data inflasi Juli ini akan menjadi salah satu pertimbangan utama bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan, selain stabilitas rupiah, perkembangan ekonomi global, dan arus modal asing.










Tinggalkan komentar