Dolar AS Ambruk Rupiah Melaju Kencang

Dolar AS Ambruk Rupiah Melaju Kencang

haluannews.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan taringnya di awal pekan ini. Rupiah berhasil melesat, memangkas dominasi dolar Amerika Serikat yang kini tampak tak berdaya. Para pelaku pasar disuguhkan pemandangan optimis saat rupiah membuka perdagangan dengan apresiasi signifikan.

COLLABMEDIANET

Merujuk data terkini, pada pembukaan sesi perdagangan Senin 7 September 2026, nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,11 persen. Angka tersebut membawa rupiah bertengger di level Rp17.610 per dolar AS. Kinerja impresif ini bukan sekadar kebetulan, melainkan kelanjutan dari tren positif yang telah dimulai sejak akhir pekan sebelumnya. Pada Jumat 4 September 2026, rupiah juga menutup perdagangan dengan kenaikan 0,11 persen, mencapai posisi Rp17.630 per dolar AS. Ini merupakan level penutupan terkuat rupiah sejak 21 Mei 2026, menandakan momentum kebangkitan yang patut dicermati.

Dolar AS Ambruk Rupiah Melaju Kencang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah tipis. Pada pukul 09.00 WIB, DXY terkoreksi 0,03 persen ke posisi 99,143. Pelemahan ini menjadi angin segar bagi rupiah untuk terus menanjak, setelah sebelumnya DXY sempat menguat 0,27 persen pada perdagangan Jumat pekan lalu.

Penguatan rupiah ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap pengumuman data cadangan devisa Indonesia periode Agustus 2026. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data krusial ini pada pukul 10.00 WIB hari ini. Sebelumnya, pada akhir Juli 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat stabil di angka US$145,3 miliar, sedikit menurun dari US$145,6 miliar pada akhir Juni. Stabilitas ini didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan obligasi global pemerintah, meskipun sebagian juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri dan intervensi BI menjaga stabilitas rupiah.

Posisi cadangan devisa pada akhir Juli tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar tiga bulan impor. Rilis data Agustus akan menjadi penentu seberapa besar "amunisi" yang dimiliki BI untuk menjaga ketahanan rupiah di tengah gejolak eksternal. Cadangan devisa yang kokoh akan menopang kepercayaan terhadap rupiah dan aset domestik, sementara penurunan signifikan bisa mengindikasikan tekanan pembayaran eksternal atau intervensi pasar yang intens.

Dari kancah global, dolar AS masih kesulitan menemukan pijakan kuat, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali menguat. Laporan tenaga kerja AS yang dirilis Jumat lalu sempat memberikan dorongan sesaat bagi greenback, meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September menjadi sekitar 57 persen. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Kekhawatiran terhadap membengkaknya utang pemerintah AS dan ketidakpastian arah kebijakan Negeri Paman Sam terus membayangi.

Dolar juga menghadapi tekanan dari bank sentral utama dunia lainnya yang diperkirakan akan turut menaikkan suku bunga. Kondisi ini membuat selisih kebijakan moneter antara The Fed dan bank sentral lain tidak melebar secara signifikan, sehingga memudarkan daya tarik dolar AS.

Fokus pasar kini beralih ke data inflasi AS yang akan diumumkan pada Jumat mendatang. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed dan kembali mengangkat dolar. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah bisa membuka ruang bagi The Fed untuk menahan suku bunga, yang pada gilirannya dapat menekan dolar dan memberikan kesempatan emas bagi rupiah untuk terus menguat.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar