Haluannews Ekonomi – Ancaman resesi ekonomi global turut dirasakan industri kecantikan Tanah Air. Penurunan daya beli masyarakat menjadi sorotan utama, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Direktur PT Mandom Indonesia Tbk, Hideki Nakamura. Namun, ancaman tak hanya datang dari eksternal. Biaya produksi yang merangkak naik dan kestabilan rencana produksi juga menjadi tantangan internal yang tak kalah berat bagi perusahaan kosmetik ini.

Related Post
Dalam wawancara eksklusif di program Closing Bell Haluannews.id, Kamis (18/09/2025), Nakamura menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap dinamika pasar, khususnya hingga ke level ritel. Persaingan di ranah e-commerce juga menjadi perhatian serius. Banyaknya merek kecantikan yang agresif dalam pemasaran digital diakui sebagai tantangan tersendiri. Namun, di tengah persaingan ketat ini, Nakamura melihat peluang besar yang masih bisa digarap.

Mandom, menurut Nakamura, memandang pergeseran tren belanja konsumen ke platform digital sebagai sebuah keniscayaan. Strategi adaptif dan responsif menjadi kunci untuk tetap kompetitif di tengah gempuran persaingan. Perusahaan harus mampu membaca dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan perilaku konsumen dan tren pasar yang dinamis. Kemampuan berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen secara spesifik menjadi penentu keberhasilan perusahaan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
Strategi Mandom dalam menghadapi tantangan ini perlu dikaji lebih lanjut untuk menjadi pembelajaran bagi pelaku industri kecantikan lainnya. Bagaimana perusahaan mampu menyeimbangkan antara menekan biaya produksi, mempertahankan kualitas produk, dan tetap agresif dalam pemasaran digital akan menjadi kunci keberlangsungan bisnis di tengah penurunan daya beli masyarakat.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar