Danantara Pangkas Ratusan BUMN

Danantara Pangkas Ratusan BUMN

haluannews.id – Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Danantara tengah melakukan langkah besar dalam menata ulang struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, Danantara dilaporkan telah melakukan perampingan besar-besaran yang berdampak pada penutupan atau penggabungan ratusan entitas usaha milik negara.

COLLABMEDIANET

CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa langkah strategis ini telah dibahas langsung dalam pertemuan dengan Presiden RI, Prabowo Subianto. Fokus utama dari agenda ini adalah melakukan optimalisasi terhadap aset-aset negara yang selama ini belum memberikan kontribusi maksimal bagi pendapatan negara.

Danantara Pangkas Ratusan BUMN
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Kami sedang melakukan optimalisasi aset-aset BUMN, meningkatkan produktivitas, serta mendorong efisiensi yang lebih tinggi. Kami juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan sektor swasta dan dunia usaha," ujar Rosan saat memberikan keterangan di Istana Presiden, Senin (5/10/2026).

Langkah Strategis Perampingan

Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Rosan, program streamlining atau perampingan ini telah menyasar 354 perusahaan. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Banyak dari perusahaan yang ditutup atau digabungkan merupakan entitas yang sudah tidak aktif atau dalam kondisi dormant. Artinya, secara legal perusahaan tersebut masih ada, namun secara operasional sudah tidak berjalan.

Selain menutup perusahaan yang tidak produktif, pemerintah juga tengah gencar melakukan aksi korporasi berupa merger atau penggabungan perusahaan. Tujuannya agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi dan pemborosan anggaran.

Sebagai contoh nyata, Rosan menyebutkan adanya penggabungan enam unit asset management yang sebelumnya tersebar di berbagai perbankan menjadi satu wadah tunggal. Selain itu, pemerintah juga melakukan konsolidasi pada sektor jasa. Jika sebelumnya setiap BUMN memiliki unit bisnis hotel dan rumah sakit sendiri-sendiri, kini semuanya ditarik ke dalam satu holding agar lebih efisien.

"Kami memiliki sekitar 137 hotel yang kini digabungkan, serta hampir 75 rumah sakit yang juga sedang dalam proses penggabungan. Ini adalah bagian dari upaya efisiensi melalui konsolidasi," tegas Rosan.

Buka Ruang bagi Sektor Swasta

Salah satu temuan mengejutkan dalam evaluasi Danantara adalah ketimpangan kontribusi dividen. Dari total 1.074 perusahaan BUMN yang ada, ternyata hanya 15 perusahaan yang mampu memberikan kontribusi dividen sebesar 97 persen. Sebaliknya, fakta pahit menunjukkan bahwa sekitar 52 persen dari total perusahaan BUMN justru mengalami kerugian.

Menanggapi kondisi ini, Danantara berkomitmen untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi sektor swasta. Jika ada bidang usaha yang bukan merupakan sektor strategis nasional namun dikelola oleh BUMN dengan hasil yang kurang optimal, pemerintah tidak akan ragu untuk menyerahkannya kepada dunia usaha.

"Jika sektor swasta mampu bekerja lebih baik dan efisien, terutama untuk bidang yang tidak bersifat strategis, maka kami akan memberikan ruang yang lebih besar bagi mereka untuk mengembangkannya," pungkas Rosan.

Melalui langkah ini, Danantara menargetkan pada awal tahun 2027, seluruh aset negara telah terkelola dengan perencanaan yang terukur, terstruktur, dan mampu memberikan keuntungan maksimal bagi kas negara.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar