Dana Triliunan Rupiah Amblas Sekejap di AI

Dana Triliunan Rupiah Amblas Sekejap di AI

haluannews.id – Kisah sukses investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai tambang emas Wall Street kini menghadapi ujian terberat. Dana kelolaan milik Leopold Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI, dilaporkan babak belur setelah strategi investasinya di bidang AI justru berbalik menjadi petaka. Perusahaan investasi bernama Situational Awareness yang sempat mengelola aset fantastis hingga US$45 miliar atau setara Rp810 triliun itu kini terpaksa melego habis seluruh portofolio saham publiknya.

COLLABMEDIANET

Kondisi mengenaskan ini dipicu oleh anjloknya saham-saham infrastruktur AI yang menjadi tulang punggung investasinya. Di saat bersamaan, prediksi Aschenbrenner bahwa saham perusahaan perangkat lunak akan merosot justru meleset jauh, memperparah luka kerugian yang diderita Situational Awareness. Tekanan kian memuncak ketika perusahaan dihadapkan pada panggilan margin (margin call) dari para krediturnya. Sejumlah bank investasi raksasa kini bahu-membahu membantu menjual aset perusahaan, sementara raksasa hedge fund Citadel milik miliarder Ken Griffin dikabarkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi seluruh portofolio saham publik Situational Awareness.

Dana Triliunan Rupiah Amblas Sekejap di AI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut informasi yang dihimpun haluannews.id dari sejumlah sumber terpercaya, bank dan broker yang menjadi mitra Situational Awareness kini berupaya keras mengumpulkan dana tunai. Langkah ini krusial agar hedge fund tersebut dapat memenuhi kewajiban margin call, yaitu keharusan menyuntikkan dana tambahan sebagai jaminan ketika nilai investasi yang dibiayai dengan pinjaman terjun bebas. Di tengah gempuran tekanan finansial ini, Citadel, perusahaan investasi yang dikendalikan oleh taipan Ken Griffin, disebut-sebut telah menyepakati pembelian seluruh kepemilikan saham publik Situational Awareness.

Salah satu pemicu utama kerugian adalah merosotnya harga saham beberapa perusahaan yang selama ini menjadi andalan dana tersebut, termasuk produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix. Ironisnya, posisi investasi yang dipasang untuk meraup untung dari penurunan saham perusahaan perangkat lunak seperti Adobe justru berbalik rugi, karena harga sahamnya malah melambung tinggi.

Sumber haluannews.id mengungkapkan, Situational Awareness sempat mengelola aset hingga US$45 miliar (sekitar Rp810 triliun dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS) pada awal Juli. Namun, hanya dalam hitungan beberapa pekan, nilai investasinya terkikis drastis. Bank investasi besar seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase kini turun tangan membantu perusahaan melakukan divestasi kepemilikan investasinya secara bertahap. Tujuannya adalah agar penjualan aset dalam jumlah besar tidak semakin membebani dan memicu gejolak harga di pasar. Situasi masih terus berkembang, dan belum ada kepastian apakah penjualan aset ini cukup untuk menutupi seluruh kewajiban margin call perusahaan. Situational Awareness juga sempat dikabarkan melirik opsi penjualan kepemilikannya di perusahaan AI Anthropic, namun juru bicara perusahaan membantah keras bahwa saham tersebut sedang dipasarkan.

Aschenbrenner, sosok yang kini berusia 25 tahun, menjadi salah satu figur paling disorot di jagat investasi AI setelah hengkang dari OpenAI pada tahun 2024. Ia berkeyakinan kuat bahwa kemajuan pesat AI akan memicu ledakan permintaan terhadap chip, semikonduktor, pusat data, dan pasokan listrik. Keyakinan inilah yang membuatnya melihat sektor-sektor tersebut sebagai tambang emas investasi yang menjanjikan. Strategi ini awalnya membuahkan profit luar biasa, membuat Situational Awareness melaju pesat. Berdasarkan dokumen regulator pada akhir kuartal I, investasi terbesar hedge fund tersebut berada di Nebius Group, Sandisk, Micron, dan CoreWeave. Namun, sepanjang bulan ini, seluruh saham tersebut telah anjlok lebih dari 35%.

Lulusan terbaik Universitas Columbia ini bergabung dengan tim Superalignment OpenAI pada usia 19 tahun. Ia dipecat dari OpenAI pada tahun 2024 setelah dituding membocorkan informasi internal perusahaan. Aschenbrenner sendiri menampik tudingan tersebut, menyatakan bahwa dokumen yang ia bagikan kepada peneliti luar bukanlah rahasia, melainkan bahan diskusi mengenai keamanan pengembangan AI.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti berapa besar kerugian yang dialami Situational Awareness atau berapa dana yang dibutuhkan untuk menstabilkan kondisi keuangannya. Namun, turbulensi finansial ini menjadi batu ujian terberat bagi strategi investasi AI yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu fenomena kesuksesan paling mencolok di Wall Street.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar