Dana Mengendap Triliunan Rupiah di Bank

Dana Mengendap Triliunan Rupiah di Bank

haluannews.id – Fenomena dana kredit yang telah disiapkan oleh sektor perbankan namun belum tersalurkan ke masyarakat atau dikenal sebagai undisbursed loan dilaporkan masih berada pada level yang sangat tinggi. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), hingga September 2026, nilai dana yang belum dicairkan tersebut menembus angka fantastis, yakni sebesar Rp2.562 triliun.

COLLABMEDIANET

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa besarnya jumlah dana mengendap ini menjadi sinyal positif bagi potensi pertumbuhan kredit nasional di masa mendatang. Menurutnya, ketersediaan dana yang melimpah ini merupakan cadangan kuat yang siap mendorong ekspansi pembiayaan jika permintaan dari debitur meningkat.

Dana Mengendap Triliunan Rupiah di Bank
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Potensi kenaikan kredit masih sangat tinggi, sejalan dengan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang tercatat mencapai Rp2.562 triliun. Angka ini setara dengan 21,7% dari total plafon kredit yang tersedia di pasar," ujar Destry dalam konferensi pers resmi pada Rabu (21/10/2026).

Menilik dari sisi permintaan, tren pertumbuhan kredit pada semester pertama tahun 2026 menunjukkan pergerakan yang menggembirakan. Pertumbuhan ini secara signifikan mulai ditopang oleh sektor korporasi swasta. Deputi Gubernur BI, Solikin M. Juhro, menjelaskan bahwa motor utama penggerak kredit saat ini adalah penyaluran kredit investasi dan modal kerja.

"Pertumbuhan ini didominasi oleh kredit investasi dan modal kerja yang tumbuh tinggi, di mana sebagian besar disalurkan ke sektor swasta. Ini menunjukkan adanya perbaikan nyata di sektor riil, yang merupakan indikator positif bagi ekonomi kita," jelas Solikin.

Lebih lanjut, Solikin menambahkan bahwa kondisi likuiditas atau suplai pembiayaan dari perbankan saat ini masih sangat sehat. Hal ini memberikan jaminan bahwa fungsi intermediasi perbankan akan terus berjalan optimal, didukung oleh ketahanan sektor keuangan yang tetap terjaga dengan sangat baik.

Guna memacu penyaluran kredit agar lebih masif dan menyentuh berbagai lapisan ekonomi, Bank Indonesia mengambil langkah strategis dengan memperbarui kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM). BI memutuskan untuk menurunkan ketentuan GWM bagi Bank Umum Konvensional (BUK) dari 9% menjadi 7%. Penurunan ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari 8% pada 1 November 2026, dan mencapai 7% pada 1 Desember 2026.

Kebijakan serupa juga diterapkan pada Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS), di mana GWM diturunkan dari 7,5% menjadi 5,5% melalui skema penurunan bertahap pada bulan November dan Desember 2026. Langkah ini merupakan bagian dari penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang juga mengalami penurunan dari 6% menjadi 5%.

Hingga September 2026, pertumbuhan kredit perbankan tercatat tumbuh kuat sebesar 13,26% secara year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh kredit investasi (23,2%), kredit modal kerja (11,89%), dan kredit konsumsi (4,86%). Jika dilihat per sektor, industri pengolahan memimpin dengan pertumbuhan 14,6%, diikuti sektor pertambangan 15,1%, konstruksi 10,6%, dan pengangkutan 13,4%.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar