Cuan Terancam? BEI Beberkan Jurus Ampuh Emiten Keluar dari Daftar HSC

Cuan Terancam? BEI Beberkan Jurus Ampuh Emiten Keluar dari Daftar HSC

Haluannews Ekonomi – Bursa Efek Indonesia (BEI) secara proaktif mendesak emiten yang terdaftar dalam kategori High Shareholder Concentration (HSC) untuk segera melakukan pemerataan distribusi kepemilikan saham. Langkah ini fundamental untuk menjaga likuiditas pasar dan menunjang terciptanya mekanisme perdagangan yang adil dan efisien. BEI juga membuka peluang untuk melakukan evaluasi berkala terhadap keterbukaan informasi emiten-emiten yang masuk kriteria HSC.

COLLABMEDIANET

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menekankan pentingnya upaya proaktif dari perusahaan tercatat. "Kami berharap perusahaan tercatat akan melakukan upaya-upaya yang diperlukan untuk melakukan distribusi saham yang lebih baik kepada publik sehingga tidak lagi terkonsentrasi," ujar Jeffrey kepada Haluannews.id pada Senin (6/4/2026). Ia menambahkan, apabila evaluasi menunjukkan kepemilikan saham telah terdistribusi secara lebih baik, BEI akan mengumumkan perubahan status tersebut, membuka jalan bagi emiten untuk keluar dari daftar HSC.

Cuan Terancam? BEI Beberkan Jurus Ampuh Emiten Keluar dari Daftar HSC
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Jeffrey lebih lanjut menjelaskan bahwa status HSC tidak mensyaratkan adanya hubungan afiliasi antar pemegang saham. Status ini murni menggambarkan situasi di mana sejumlah investor menguasai porsi signifikan dari saham yang beredar, menyebabkan kepemilikan menjadi sangat terpusat. "Misalnya, jika ada beberapa perorangan maupun institusi yang masing-masing membeli 3-4 persen saham, lalu digabungkan dengan saham pendiri, ini bisa menyebabkan kepemilikan menjadi terkonsentrasi," paparnya, memberikan gambaran konkret mengenai kriteria tersebut.

Berdasarkan metodologi penentuan struktur kepemilikan per 31 Maret 2026, tercatat sembilan emiten yang memiliki kepemilikan tunggal di atas 95%. Dampak langsung dari kondisi ini terlihat jelas pada dinamika harga saham mereka di pasar. Data perdagangan menunjukkan, tujuh dari sembilan saham yang masuk daftar HSC mengalami tekanan jual signifikan. PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 14,58%, diikuti oleh PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang turun 13,06%, dan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) melemah 12,60%. Di sisi lain, hanya dua saham yang mampu bergerak menguat, yaitu PT Ifishdeco Tbk (IFSH) sebesar 11,42% dan PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) sebesar 9,76%.

Dinamika harga yang sangat fluktuatif ini memiliki korelasi erat dengan minimnya porsi saham beredar bebas (free float). Dengan konsentrasi kepemilikan di atas 95%, likuiditas saham di pasar sekunder menjadi sangat terbatas. Pasokan saham yang terbatas akibat kendali mayoritas oleh pemegang saham pengendali, mengakibatkan mekanisme penawaran dan permintaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Keterbatasan volume transaksi ini memunculkan risiko signifikan bagi para investor, di mana sebuah transaksi dengan nilai dan volume yang relatif kecil sekalipun berpotensi memicu pergerakan harga yang tajam dan tidak proporsional.

Inisiatif BEI ini menjadi sinyal krusial bagi emiten untuk segera melakukan restrukturisasi kepemilikan. Distribusi saham yang lebih merata bukan hanya sekadar kepatuhan regulasi, melainkan fondasi utama untuk membangun pasar modal yang efisien, transparan, dan mampu melindungi kepentingan seluruh pemangku kepentingan.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar