haluannews.id – Bank of Korea (BOK) memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga lanjutan bukan tidak mungkin terjadi. Keputusan ini muncul di tengah laju inflasi yang masih melampaui target dan performa ekonomi Korea Selatan yang menunjukkan kekuatan di atas ekspektasi. Namun, bank sentral menegaskan bahwa setiap langkah akan diambil dengan penuh kehati-hatian dan fleksibilitas.

Related Post
Kwon Min-soo, Deputi Gubernur Senior Bank Sentral Korea, menekankan bahwa faktor inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas finansial akan menjadi landasan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter. Ia juga mengingatkan bahwa penyesuaian suku bunga membawa dampak positif sekaligus potensi risiko terhadap perekonomian secara keseluruhan.

"Ini adalah momen krusial untuk membuat keputusan kebijakan dengan cermat, dan bersikap adaptif jika kondisi menuntut," ujar Kwon kepada awak media pada Jumat (21/8/2026), seperti dikutip dari berbagai sumber. "Dalam menetapkan suku bunga, kita harus mempertimbangkan tren pertumbuhan dan inflasi, serta stabilitas keuangan."
Isyarat ini mengemuka menjelang pertemuan Dewan Kebijakan Moneter BOK yang dijadwalkan pada 27 Agustus mendatang. Pada bulan Juli lalu, BOK telah mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, mencapai 2,75% dari sebelumnya 2,50%, menandai kenaikan perdana dalam tiga setengah tahun terakhir.
Laju inflasi di Korea Selatan yang masih di atas target 2% menjadi sorotan utama. Di sisi lain, pemulihan ekonomi justru menunjukkan performa yang lebih tangguh dari perkiraan awal, terutama didorong oleh sektor semikonduktor yang cemerlang. Kondisi ini membuka kembali ruang bagi BOK untuk mempertimbangkan pengetatan kebijakan.
Kwon sendiri menepis label ‘hawkish’ maupun ‘dovish’. Ia menegaskan bahwa kebijakan akan ditentukan secara adaptif berdasarkan data dan kondisi ekonomi terkini. "Saya tidak ingin diberi label hawkish atau dovish. Saya akan membuat keputusan secara fleksibel berdasarkan data," tegasnya.
Selain inflasi dan pertumbuhan, volatilitas nilai tukar won juga tak luput dari perhatian BOK. Mata uang won telah menguat tajam sejak bulan lalu, bahkan menembus level tertinggi dalam sebelas bulan terakhir. Meskipun demikian, Kwon menilai bahwa fluktuasi mata uang dan berbagai faktor eksternal tetap perlu diperhitungkan dalam formulasi kebijakan moneter.
Dengan suku bunga saat ini di angka 2,75%, pasar kini menanti apakah BOK akan kembali mengerek suku bunga pada rapat pekan depan atau memilih untuk menahan diri. Pernyataan Kwon jelas menunjukkan bahwa bank sentral masih membuka kedua opsi tersebut, dengan keputusan akhir akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan, stabilitas keuangan, serta potensi risiko dari luar.










Tinggalkan komentar