haluannews.id – Industri asuransi milik negara di bawah payung Indonesia Financial Group (IFG) bersiap menghadapi era baru. Sebuah rencana ambisius untuk menyatukan berbagai perusahaan asuransi BUMN tengah digeber, dengan target rampung pada tahun 2026. Langkah strategis ini diharapkan mampu menciptakan raksasa asuransi yang lebih kokoh dan efisien.

Related Post
Kepala BP BUMN yang juga menjabat COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, baru-baru ini bertemu dengan Direktur Utama IFG, Hexana Tri Sasongko. Pertemuan penting tersebut berfokus pada pembahasan mendalam mengenai integrasi bisnis, penguatan tata kelola, optimalisasi permodalan, serta pengembangan sinergi antar entitas yang akan menjadi bagian dari struktur perusahaan hasil penggabungan.

Hexana Tri Sasongko menjelaskan bahwa aksi korporasi besar ini sedang memasuki tahap finalisasi studi komprehensif. Penelitian mendalam tersebut, yang didampingi oleh konsultan independen, mencakup penentuan entitas yang akan bergabung, skema transaksi yang paling optimal, tahapan pelaksanaan, serta pemenuhan seluruh aspek regulasi dan tata kelola yang berlaku.
Secara paralel, beberapa inisiatif internal dalam ekosistem IFG juga sudah memasuki fase transaksi. Informasi lebih lanjut mengenai hal ini akan diumumkan setelah seluruh proses kajian dan persetujuan dari para pemangku kepentingan selesai. Hexana menambahkan, skema penggabungan yang akan digunakan masih dipertimbangkan secara cermat. Berbagai aspek menjadi fokus utama, mulai dari skala dan model bisnis, efisiensi operasional, kecukupan modal, kualitas portofolio, kesiapan organisasi, hingga ketentuan regulasi. Semua pertimbangan ini diarahkan untuk membentuk perusahaan yang lebih sehat, berdaya saing tinggi, dan memiliki kapasitas bisnis serta pengelolaan risiko yang kuat.
Saat ini, IFG tengah melakukan uji tuntas (due diligence) secara menyeluruh yang dilakukan oleh konsultan independen. Proses ini mencakup aspek bisnis, keuangan, operasional, aktuaria, investasi, teknologi informasi, perpajakan, risiko, kepatuhan, dan hukum. Hasil uji tuntas ini akan menjadi dasar untuk mengidentifikasi potensi masalah warisan (legacy issues) serta merumuskan langkah mitigasi yang tepat agar tidak membebani entitas hasil konsolidasi.
Hexana juga menguraikan bahwa penataan atau optimalisasi portofolio merupakan bagian integral dari evaluasi dalam proses uji tuntas. Opsi tindak lanjut, termasuk pembersihan portofolio jika diperlukan, akan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing entitas, hasil kajian, prinsip kehati-hatian, serta persetujuan dari pemegang saham dan regulator.
Penggabungan dan penyederhanaan perusahaan asuransi serta penjaminan merupakan inisiatif strategis dari Danantara Indonesia, dengan IFG bertindak sebagai koordinator pelaksana di sektor asuransi dan penjaminan. Pelaksanaannya dilakukan melalui koordinasi erat dengan Danantara Indonesia, regulator, dan pemangku kepentingan terkait untuk memperkuat kapasitas industri, meningkatkan efisiensi, mengintegrasikan layanan, serta memperkuat tata kelola dan manajemen risiko.
Ke depan, Hexana memastikan bahwa struktur akhir akan membentuk masing-masing satu entitas asuransi umum konvensional, asuransi umum syariah, asuransi jiwa konvensional, asuransi jiwa syariah, penjaminan konvensional, penjaminan syariah, entitas yang mengerjakan penugasan UU 33/34, dan entitas penunjang asuransi.
Target penyelesaian secara bertahap direncanakan pada tahun 2026 dan awal tahun 2027. Dampaknya diharapkan akan menciptakan entitas yang besar secara bisnis, kuat dalam hal permodalan, dan memberikan efisiensi biaya yang signifikan. Sebelumnya, Dony Oskaria berharap konsolidasi ini menjadi fondasi bagi pembentukan ekosistem asuransi BUMN yang lebih terintegrasi, kuat, dan mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. "Konsolidasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat industri asuransi BUMN agar lebih sehat, efisien, dan kompetitif," tegas Dony.








Tinggalkan komentar