Haluannews Ekonomi – Jakarta, Haluannews.id – Fenomena lonjakan harga komoditas global telah mengubah lanskap ekonomi dunia, menjadikan sektor pertambangan dan sumber daya alam sebagai ladang subur bagi terciptanya para miliarder. Di Indonesia, tren ini juga sangat terasa, di mana sejumlah konglomerat berhasil mengumpulkan kekayaan fantastis, khususnya dari bisnis "emas hitam" batu bara. Haluannews.id merangkum lima sosok paling berpengaruh yang meraup keuntungan besar dari industri ini.

Related Post
1. Low Tuck Kwong

Low Tuck Kwong, dikenal sebagai nakhoda PT Bayan Resources Tbk., sebuah entitas pertambangan batu bara yang kini mendominasi bursa domestik dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektornya. Berkat kepiawaiannya, Forbes pada akhir tahun lalu menobatkannya sebagai orang terkaya keempat di Indonesia, dengan estimasi kekayaan mencapai US$24,9 miliar.
2. Keluarga Widjaja
Dinasti Widjaja, yang dibangun oleh mendiang Eka Tjipta Widjaja, merupakan salah satu pilar konglomerasi di Indonesia sejak era Orde Baru. Melalui Sinar Mas Group, mereka memiliki PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang berfokus pada sektor energi dan infrastruktur. Ekspansi bisnis batu bara mereka semakin kuat dengan kepemilikan Golden Energy and Resources Ltd. (GEAR), anak usaha DSSA, yang tidak hanya memiliki tambang di Australia tetapi juga berhasil mengakuisisi Stanmore Coal. Selain itu, PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) turut menjadi kontributor signifikan dalam pasokan batu bara. Forbes memproyeksikan kekayaan keluarga ini mencapai US$28,3 miliar pada akhir tahun 2025.
3. Garibaldi Thohir
Garibaldi Thohir, atau yang akrab disapa Boy Thohir, adalah sosok di balik kesuksesan PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), salah satu raksasa pertambangan batu bara nasional. Saat melantai di bursa pada tahun 2008, ADRO mencatat rekor IPO terbesar kala itu, sebelum akhirnya dipecahkan oleh Bukalapak. Kakak kandung Menteri BUMN Erick Thohir ini, menurut laporan Forbes tahun lalu, memiliki kekayaan sebesar US$3,8 miliar, setara dengan sekitar Rp 64,2 triliun.
4. Kiki Barki
Kiki Barki merupakan figur sentral di balik PT Harum Energy Tbk. (HRUM), emiten pertambangan batu bara yang didirikannya pada tahun 1995. Selain itu, ia juga memiliki tambang batu bara swasta Tanito Harum. Generasi penerusnya pun telah aktif terlibat, dengan putra sulungnya, Lawrence Barki, menjabat sebagai presiden komisaris di Harum Energy, sementara putra bungsunya juga memegang posisi strategis. Forbes pada tahun 2024 memperkirakan total kekayaan Kiki Barki mencapai US$1,3 miliar, atau sekitar Rp 21,9 triliun.
5. Edwin Soeryadjaya
Edwin Soeryadjaya, putra dari Tjia Han Pun yang merupakan perintis Astra pasca-perang kemerdekaan, juga menorehkan jejaknya di kancah bisnis. Bersama Sandiaga Uno, ia mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG), sebuah perusahaan investasi terkemuka. Ketika industri pertambangan batu bara mulai menggeliat di Indonesia pada awal tahun 2000-an, Edwin tak ketinggalan mengambil peran, terlibat dalam pendirian Pama Persada, salah satu pemain kunci di sektor ini. Forbes memproyeksikan kekayaannya mencapai US$1,2 miliar, atau sekitar Rp 20,2 triliun, pada tahun 2025.
Kelima sosok ini menjadi bukti nyata bagaimana sektor pertambangan batu bara di Indonesia telah menjadi katalisator utama dalam menciptakan kekayaan triliunan rupiah. Dengan strategi bisnis yang jitu dan kemampuan adaptasi terhadap dinamika pasar komoditas, mereka berhasil mengukuhkan posisi sebagai ‘crazy rich’ yang patut diperhitungkan di kancah ekonomi nasional.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar