Haluannews Ekonomi – Pergerakan bursa saham Asia-Pasifik Jumat (29/8/2025) terpantau variatif, bertolak belakang dengan penguatan yang terjadi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Para investor di kawasan Asia tampak mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting yang dirilis baru-baru ini.

Related Post
Berdasarkan laporan Haluannews.id, indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami pelemahan sebesar 0,31%, sementara Topix turun 0,39%. Penurunan ini terjadi setelah data inflasi Jepang menunjukkan perlambatan. Indeks Harga Konsumen Inti (Core CPI) Tokyo naik 2,5% secara tahunan pada Agustus, sesuai dengan proyeksi Reuters dan lebih rendah dari kenaikan 2,9% pada Juli. Meskipun melambat, angka inflasi tersebut masih berada di atas target 2% Bank of Japan. Di sisi lain, tingkat pengangguran Jepang justru menurun menjadi 2,3% pada Juli, dari 2,5% pada bulan sebelumnya.

Berbeda dengan Jepang, indeks Kospi di Korea Selatan menguat 0,31%, dan Kosdaq naik lebih signifikan, mencapai 0,76%. Di Australia, S&P/ASX 200 juga mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,11%. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng di Hong Kong menunjukkan angka 25.104, mengindikasikan potensi pembukaan yang lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di angka 24.998,82.
Di Amerika Serikat, pasar saham justru menunjukkan tren positif. Ketiga indeks utama Wall Street, S&P 500, Nasdaq Composite, dan Dow Jones Industrial Average, berhasil ditutup menguat. S&P 500 naik 0,32% ke 6.501,86, bahkan sempat mencetak rekor intraday di atas 6.500 poin. Nasdaq Composite naik 0,53% ke 21.705,16, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 71,67 poin (0,16%) menjadi 45.636,90, juga mencetak rekor baru.
Perbedaan pergerakan pasar saham antara Asia dan Amerika Serikat ini menunjukkan kompleksitas dinamika pasar global dan sensitivitas investor terhadap data ekonomi makro.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar