Haluannews Ekonomi – Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditutup melemah 0,4% di angka Rp 16.190/US$ pada Rabu (8/1/2025). Pergerakan ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan Selasa (7/1/2025) yang menunjukkan penguatan 0,04%. Data ekonomi AS yang kuat menjadi biang keladinya.

Related Post
Haluannews.id mencatat, indeks dolar AS/DXY pada pukul 15:01 WIB naik 0,21% ke angka 108,76, lebih tinggi dari posisi 108,54 pada hari sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlanjut, terutama setelah rilis data ketenagakerjaan AS dan sejumlah data penting lainnya yang dinantikan sepanjang pekan ini.

Data ketenagakerjaan AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan kekuatan ekonomi Negeri Paman Sam. Jumlah lowongan pekerjaan (JOLTs Job Opening) November mencapai 8,09 juta, melampaui ekspektasi 7,7 juta. Sementara itu, angka pekerja yang mengundurkan diri (Job Quits) November juga lebih baik dari perkiraan, yakni 3,06 juta dibandingkan proyeksi 3,31 juta.
Kondisi pasar tenaga kerja AS yang positif mengindikasikan ekonomi yang masih kuat, meskipun inflasi mulai mereda. Hal ini membuat The Fed diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan lainnya, termasuk klaim pengangguran dan laporan penggajian swasta dari Automatic Data Processing (ADP) Research Institute. ADP Employment Rate diperkirakan akan menunjukkan penambahan 130.000 pada Desember, sebelum rilis Non Farm Payroll (NFP) periode Desember pada Jumat. Data-data ini akan menjadi acuan penting untuk menilai kondisi pasar kerja dan tingkat pengangguran di AS.
Selain itu, pasar juga mencermati data neraca perdagangan AS November 2024 yang menunjukkan pelebaran defisit lebih besar dari perkiraan, mencapai US$ 78,2 miliar.
Di tengah sentimen negatif dari AS, Bank Indonesia (BI) melaporkan kenaikan signifikan cadangan devisa (cadev) menjadi US$ 155,7 miliar pada Desember 2024, naik dari US$ 150,2 miliar pada November 2024. Apakah langkah BI ini cukup untuk menahan gempuran dolar AS? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.











Tinggalkan komentar