Wall Street Meroket! Trump Jadi Biang Keladinya?

Wall Street Meroket! Trump Jadi Biang Keladinya?

Haluannews Ekonomi – Pekan positif kembali menghiasi Wall Street! Indeks S&P 500 berhasil stabil di perdagangan Jumat lalu, bahkan sempat menyentuh rekor penutupan tertinggi. Keberhasilan ini tak lepas dari pidato Presiden Donald Trump yang menyerukan penurunan suku bunga dan harga minyak. Kabar ini jelas menjadi angin segar bagi investor, yang semakin optimis dengan kebijakan pro-bisnis pemerintahannya.

COLLABMEDIANET

Dorongan kuat bagi pasar saham terjadi pada Kamis, setelah Trump secara terang-terangan menyatakan akan "meminta suku bunga segera diturunkan" dalam pidatonya di Davos, Swiss. Ia juga berencana meminta Arab Saudi dan negara-negara OPEC untuk menurunkan harga minyak. Alhasil, Indeks S&P 500 pun mencetak rekor baru, baik intraday maupun penutupan.

Wall Street Meroket! Trump Jadi Biang Keladinya?
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, analis Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, memberikan sedikit catatan. Dalam tulisannya, ia menyebutkan bahwa meskipun pidato Trump di Davos tampak positif—termasuk seruan kepada OPEC, desakan penurunan suku bunga, dan janji pemangkasan pajak serta regulasi—namun, hanya sedikit poin yang benar-benar signifikan atau berada dalam kendali Trump.

Optimisme terhadap kebijakan pro-bisnis Trump memang mendorong penguatan aset berisiko sepanjang pekan ini. Investor juga merasa lega karena hingga saat ini Trump baru sebatas mengeluarkan ancaman terkait tarif, tanpa mengambil tindakan formal.

Ketiga indeks utama pun mencatatkan pekan kedua berturut-turut dalam zona hijau. Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 masing-masing naik 2,5% dan 2%, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi menguat sekitar 2,2%.

Investor tetap memantau imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang naik di tengah laporan kinerja perusahaan yang kuat. CEO BlackRock, Larry Fink, bahkan menyebut upaya Trump untuk mendorong aliran modal ke sektor swasta berpotensi memicu tekanan inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi 10 tahun mendekati level 5%.

Chris Hussey, Managing Director di Goldman Sachs, dalam catatannya kepada klien, mengatakan bahwa pertumbuhan yang lebih baik di perusahaan-perusahaan AS dapat membantu imbal hasil Treasury 10 tahun menemukan titik terendah untuk saat ini. Apakah tren positif ini akan berlanjut? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar