Trump Kembali, Utang RI Terancam?!

Trump Kembali, Utang RI Terancam?!

Haluannews Ekonomi – Kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang kembali berkuasa, berpotensi mengganggu pasar keuangan Indonesia. Pemerintah pun sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampaknya. Kebijakan ekonomi Trump sebelumnya, seperti tarif perdagangan tinggi, pemotongan pajak besar-besaran, dan belanja fiskal yang massif, telah menimbulkan gejolak di pasar global.

COLLABMEDIANET

Hal ini berdampak pada peningkatan imbal hasil surat berharga pemerintah AS (US Treasury Note), khususnya tenor 10 tahun. Kenaikan ini berpotensi menarik aliran modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga berdampak pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Trump Kembali, Utang RI Terancam?!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Peningkatan yield US Treasury berpotensi memengaruhi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui jalur investasi, perdagangan, dan sektor keuangan," jelas Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dalam program Power Lunch Haluannews.id (13/1/2025).

Pada pekan kedua Januari 2025, tercatat aksi jual neto SBN Indonesia mencapai Rp 2,9 triliun, berbanding terbalik dengan pekan sebelumnya yang mencatat beli neto Rp 1,94 triliun. Yield SBN 10 tahun pun naik ke 7,18% dari 6,95%, seiring dengan kenaikan yield UST Note 10 tahun ke 4,689% (9 Januari 2025) dari 3,95% (3 Januari 2025).

Untuk mengurangi risiko, pemerintah akan menjaga kinerja makro ekonomi Indonesia. "Kita jaga inflasi, nilai tukar rupiah, neraca pembayaran, dan fiskal yang prudent dan berkelanjutan. Ini penting bagi investor," tegasnya.

Strategi pembiayaan akan dilakukan secara oportunistik dan fleksibel. "Kami akan terus melakukan strategi yang oportunistik dan fleksibel, melihat dinamika pasar global untuk memastikan pemenuhan pembiayaan APBN melalui penerbitan SBN dengan biaya bunga yang baik dan risiko terkelola," tambahnya.

Meskipun demikian, dengan pertumbuhan ekonomi stabil sekitar 5%, inflasi terkendali, defisit fiskal terjaga di kisaran 2,29%, dan utang terkendali, pasar SBN Indonesia masih menarik bagi investor global. "Meskipun UST naik signifikan, kenaikan SBN relatif moderat, sehingga spread-nya tetap tight. Aliran modal asing masih masuk, menunjukkan kepercayaan investor terhadap kinerja ekonomi Indonesia," tutupnya.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar