haluannews.id – Dunia perbankan internasional tengah diguncang oleh temuan mengejutkan mengenai celah sistem keuangan yang digunakan Rusia untuk menembus blokade ekonomi Amerika Serikat (AS). Sebuah bank regional asal China, Zhejiang Chouzhou Commercial Bank, diduga kuat menjadi pintu masuk utama bagi perusahaan-perusahaan Rusia untuk tetap bisa mengakses sistem dolar AS meskipun tengah dihantam sanksi berat dari Barat.

Related Post
Berdasarkan investigasi mendalam terhadap ribuan dokumen transaksi keuangan, bank yang berbasis di Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang ini terdeteksi melayani puluhan perusahaan yang terlibat dalam perdagangan barang-barang sensitif. Dalam periode empat bulan pertama tahun 2025 saja, ditemukan lebih dari 50 nasabah perusahaan yang menjual komponen elektronik terlarang, bahan kimia industri, hingga jasa lainnya ke wilayah Rusia.

Modus yang digunakan tergolong sangat rapi dan memanfaatkan kelemahan dalam sistem correspondent banking. Dalam praktik ini, bank kecil seperti Chouzhou memanfaatkan rekening koresponden yang mereka miliki di bank-bank raksasa Wall Street untuk melakukan transaksi internasional. Pola transaksi yang berlapis-lapis ini membuat identitas asli pembeli dan jenis barang yang diperjualbelikan menjadi sangat sulit dilacak oleh otoritas pengawas keuangan.
Sebagai gambaran betapa licinnya skema ini, sebuah kasus pada Januari 2025 mengungkap bagaimana sebuah perusahaan Rusia berhasil membeli komponen sistem perang elektronik senilai US$73.000 melalui distributor di Hong Kong. Dana tersebut mengalir dari First Abu Dhabi Bank di Uni Emirat Arab menuju rekening Chouzhou yang ada di Bank of America. Karena sifat transaksi koresponden, Bank of America hanya menerima instruksi transfer tanpa mengetahui detail barang yang dibeli, sehingga aktivitas ilegal tersebut lolos dari radar pengawasan.
Tak hanya itu, keterlibatan perusahaan cangkang di Kirgistan yang bekerja untuk firma keuangan Moskow, A7, juga terungkap. Mereka dilaporkan melakukan pembelian barang-barang yang masuk dalam daftar hitam senilai lebih dari US$10 juta melalui jaringan bank yang terhubung dengan Chouzhou.
Meskipun Bank of America sempat memutus hubungan kerja sama dengan Chouzhou pada Juni 2025, bank kecil ini seolah tidak kehilangan taringnya. Data dari platform kepatuhan BankCheck menunjukkan bahwa Chouzhou dengan cepat membuka rekening dolar baru di Citibank dan Standard Chartered yang hingga kini masih aktif digunakan.
Kekuatan utama Chouzhou terletak pada kemampuannya melayani puluhan bank di negara-negara yang dianggap berisiko tinggi terhadap pencucian uang atau penghindaran sanksi, seperti Afghanistan, Yaman, hingga Sudan Selatan. Bahkan, Chouzhou tercatat menyediakan akses rekening dolar bagi hampir 70 bank lain, sebuah angka yang jauh melampaui bank raksasa dunia seperti ICBC atau HSBC.
Meski secara resmi mengklaim telah berhenti bertransaksi langsung dengan Rusia dan Belarusia sejak awal 2024, Chouzhou tetap menjadi pemain kunci dalam ekosistem keuangan yang memungkinkan Rusia tetap bernapas di tengah tekanan ekonomi global. Dengan volume transaksi internasional yang mencapai lebih dari US$200 miliar pada 2024, bank ini telah menjadi "jembatan rahasia" yang sangat efektif bagi kepentingan ekonomi Moskow.










Tinggalkan komentar