Haluannews Ekonomi – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, baru-baru ini menarik perhatian pelaku pasar dengan mengungkapkan potensi keuntungan investasi emas yang fantastis, mencapai 60% dalam kurun waktu setahun. Pernyataan ini disampaikan dalam forum peluncuran Indonesia’s Bullion Ecosystem di Jakarta pada Jumat, 6 Maret 2026, di hadapan Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, sebagaimana dilaporkan Haluannews.id.

Related Post
"Kalau investasi di emas ini setahun sudah 60% kenaikannya, jadi mau investasi di mana lagi, Pak Pandu? Jadi ini terbukti dari BSI maupun Pegadaian," tegas Airlangga, menyoroti daya tarik komoditas logam mulia tersebut sebagai instrumen investasi yang menjanjikan.

Airlangga juga menyoroti kinerja impresif PT Pegadaian, salah satu pilar utama dalam ekosistem emas di Indonesia. Perusahaan pelat merah ini mencatatkan rasio pengembalian aset (ROA) sebesar 6,7%, menunjukkan efisiensi operasional yang solid. Jumlah nasabah tabungan emas Pegadaian melonjak signifikan menjadi sekitar 5,7 juta, dengan total tabungan emas mencapai 19,25 ton. Lebih lanjut, total emas yang dikelola Pegadaian mencapai angka fantastis 141,7 ton, bahkan melampaui volume pengelolaan emas oleh Bank Indonesia. "Jadi pengelolaan emas Pegadaian ini lebih tinggi dari Bank Indonesia (BI). Jadi silakan diakuisisi, Bu Destry," ujarnya, menyiratkan potensi kolaborasi strategis.
Direktur Utama PT Pegadaian, Damar Latri Setiawan, dalam kesempatan yang sama, memaparkan bahwa aset perusahaan pada tahun 2025 mencapai Rp152 triliun. Outstanding pembiayaan tumbuh signifikan sekitar 40% menjadi Rp126 triliun, dengan laba bersih mencapai Rp8,35 triliun, melonjak lebih dari 42% dari tahun sebelumnya. "ROA kami mendekati 7%, sesuai permintaan Presiden. Untuk ROI-nya juga menggiurkan, Pak, 21%," tambah Damar, menunjukkan solidnya fundamental perusahaan di tengah dinamika pasar.
Tak ketinggalan, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), melalui Direktur Utamanya Anggoro Eko Cahyo, melaporkan pertumbuhan nasabah emas sekitar 40% sepanjang tahun lalu. Volume perdagangan emas BSI pada tahun 2025 mencapai sekitar 4 ton. "Dua bulan ini Pak Menko itu sudah 2,7 ton (volume perdagangan). Jadi kelihatannya tahun ini akan bisa 2 kali lipat trading-nya," jelas Anggoro, mengindikasikan prospek cerah di tahun berjalan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas syariah.
Saat ini, ekosistem bank bullion di Indonesia didukung oleh dua penyelenggara utama yang menunjukkan performa positif dalam pengelolaan dan perdagangan emas, yakni PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS). Keberadaan kedua institusi ini diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam pasar emas global.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar