Haluannews Ekonomi – Jakarta – Di tengah gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat diwarnai isu penyesuaian indeks MSCI, PT Mandiri Sekuritas (Mansek) menegaskan bahwa deretan calon emiten yang mereka dampingi untuk penawaran umum perdana (IPO) tidak goyah. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengungkapkan bahwa tidak ada satu pun perusahaan di pipeline IPO mereka yang memutuskan untuk menunda atau bahkan mundur.

Related Post
Oki menjelaskan dalam acara buka puasa bersama di Jakarta, Rabu (25/2/2024), bahwa jumlah pipeline IPO Mansek tahun ini justru lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, dengan lebih dari enam perusahaan siap melantai. "Bahkan setelah kondisi MSCI hingga Moody’s ini, tidak ada satu pun dari calon emiten yang kita kerjakan itu yang hold atau mungkin mundur [dari IPO]," tegas Oki, seperti dikutip Haluannews.id.

Menurutnya, reformasi pasar modal yang sedang berjalan di Indonesia justru menjadi katalis positif. Dengan kerangka aturan dan struktur yang semakin jelas, pasar modal domestik diyakini akan semakin kuat dan menarik bagi investor, terutama institusi. Oki menambahkan, semakin besar skala aset calon emiten, semakin besar pula peluang investor institusi untuk berpartisipasi. Sebaliknya, IPO dengan ukuran yang terlalu kecil seringkali menghadapi tantangan karena keterbatasan threshold investasi dari banyak institusi.
"Dengan threshold yang lebih tinggi serta didukung fundamental dan cerita pertumbuhan (growth story) yang kuat, baik investor domestik maupun asing akan lebih tertarik untuk masuk," jelas Oki. Kondisi ini, lanjutnya, akan menciptakan struktur pasar yang lebih berkualitas dan sehat. Ia menilai pipeline IPO Mansek saat ini sangat prospektif untuk direalisasikan tahun ini, dengan kualitas calon emiten yang sangat baik.
Oki juga memandang tahun ini sebagai fase transisi krusial bagi pasar IPO. Penurunan imbal hasil obligasi (bond yield) ke kisaran 6% telah menggeser minat investor ke instrumen saham, khususnya saham perbankan, yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi, sekitar 9%. Fenomena ini mendorong peralihan dana dari instrumen pendapatan tetap ke ekuitas.
Potensi penurunan suku bunga acuan sebesar 25 hingga 50 basis poin di masa mendatang diperkirakan akan semakin memperkuat momentum ini. Oki menyebut tahun ini sebagai "fase reset", di mana dana pensiun dan investor institusi secara aktif melakukan switching portofolio untuk mengoptimalkan imbal hasil.
Di sisi korporasi, Oki mengamati adanya pemulihan kinerja. Setelah mengalami kontraksi pertumbuhan sekitar 12% tahun lalu, banyak perusahaan diproyeksikan akan kembali membukukan pertumbuhan positif tahun ini. Mandiri Sekuritas sendiri memproyeksikan IHSG dapat mencapai 9.350 dalam skenario bullish dan 7.670 dalam skenario bearish. Beberapa sektor yang diidentifikasi memiliki prospek pertumbuhan menjanjikan meliputi komoditas, telekomunikasi, internet/digital, konsumer, ritel, transportasi, dan bahan bangunan.
Editor: Rohman








Tinggalkan komentar