haluannews.id – Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah ekstrem demi melindungi nilai tukar rupiah dari gempuran ketidakpastian ekonomi dunia. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu melakukan intervensi secara agresif atau "bold" jika tekanan global semakin tidak terkendali dan mengancam stabilitas mata uang nasional.

Related Post
Langkah tegas ini disiapkan sebagai antisipasi terhadap dinamika pasar keuangan global yang saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat rentan. Menurut Destry, sebagian besar gejolak yang terjadi pada nilai tukar rupiah saat ini bukan disebabkan oleh faktor ekonomi dalam negeri, melainkan dipicu oleh sentimen negatif dari pasar internasional.

"Jika memang diperlukan, kami akan melakukan intervensi yang lebih berani. Kami melihat bahwa sumber utama dari gejolak yang terjadi saat ini memang lebih banyak berasal dari faktor global," ujar Destry dalam sebuah sesi diskusi ekonomi yang dilansir pada Jumat (9/10/2026).
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian serius BI adalah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah. Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda di wilayah tersebut dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi ini biasanya diikuti dengan penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), yang secara otomatis akan memberikan tekanan berat pada mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Destry memberikan catatan optimis mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ia menilai bahwa kondisi domestik saat ini relatif masih terkendali dan jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara lain. Salah satu bukti nyata kekuatan ekonomi nasional adalah performa neraca perdagangan yang menunjukkan tren positif.
"Di sisi domestik, situasi kita relatif lebih mudah dikelola. Sebagai contoh, neraca perdagangan kita sempat mencatatkan surplus hingga mencapai angka US$ 3,3 miliar. Ini merupakan lompatan yang signifikan, meskipun sebenarnya hal ini sudah diantisipasi sebelumnya karena adanya kenaikan harga komoditas yang mendorong volume ekspor kita," jelasnya lebih lanjut.
Dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya, Bank Indonesia tidak hanya terpaku pada pergerakan dolar AS. BI juga akan melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan mata uang negara-negara tetangga yang memiliki karakteristik ekonomi serupa dengan Indonesia.
Destry menyebutkan bahwa pergerakan mata uang seperti Peso Filipina dan Baht Thailand akan menjadi indikator penting. Dengan membandingkan performa rupiah terhadap mata uang negara-negara dengan profil risiko yang setara, BI dapat mengambil keputusan yang lebih akurat dan terukur dalam menjaga stabilitas moneter nasional di tengah badai ekonomi global.










Tinggalkan komentar