Haluannews Ekonomi – Pergerakan saham PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjadi sorotan. Harga saham CBRE yang pada perdagangan Kamis (11/9/2025) mencapai Rp620 per saham, menandai titik tertinggi sejak pencatatan perdana. Volume perdagangan pun terbilang signifikan, dengan 680,75 juta saham berpindah tangan, frekuensi 61.068 kali, dan nilai transaksi mencapai Rp396,12 miliar.

Related Post
Lonjakan harga ini terjadi setelah koreksi 11,95% pada 9 September 2025. Namun, CBRE langsung bangkit dengan kenaikan 24,62% pada 10 September dan 25% pada 11 September. Kinerja bulanan saham ini juga luar biasa. Sejak pencabutan suspensi pada 25 Agustus 2025, CBRE hampir selalu mengalami penguatan, hanya terkoreksi sekali pada 9 September. Hasilnya, dalam 30 hari terakhir, harga CBRE melesat 408,2%.

Yang lebih mencengangkan, sepanjang tahun 2025 (year to date/ytd), saham CBRE telah meroket 3.163,16% dari harga awal tahun di Rp19. Keuntungan fantastis ini tentu menjadi magnet bagi investor yang masuk di harga awal tahun.
Rumor mengenai potensi sinergi dengan Grup Hafar, yang sebagian sahamnya dimiliki PT Petrosea Tbk (PTRO), sempat beredar. Namun, Petrosea dengan tegas membantah kabar tersebut melalui pernyataan resmi.
Sementara itu, rencana rights issue CBRE yang diumumkan pada 19 Agustus 2025, dengan rencana penerbitan maksimal 48 miliar saham baru, hingga kini masih belum jelas. Agenda rights issue tidak tercantum dalam pemanggilan RUPSLB yang dijadwalkan pada 25 September 2025, dan belum ada informasi lebih lanjut dari CBRE terkait hal ini.
Disclaimer: Artikel ini semata-mata untuk tujuan informasi dan bukan ajakan untuk membeli, menjual, atau menahan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar