Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada level Rp16.200/US$, atau turun 0,09% di awal perdagangan. Hal ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,10% ke level 97,08 pada pukul 09.00 WIB. Meskipun mengalami koreksi hari ini, penguatan dolar AS pada perdagangan Rabu (3/7/2025) mencapai 0,42% ke level 97,18, didorong oleh data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi.

Related Post
Data dari U.S Bureau of Labor Statistics (BLS) menunjukkan penambahan tenaga kerja di sektor non pertanian mencapai 147.000 pada Juni 2025, jauh di atas prediksi pasar sebesar 110.000. Kondisi ini mengindikasikan penguatan ekonomi AS yang berdampak positif pada nilai dolar AS.

Di sisi domestik, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan dalam rapat dengan Komisi XI DPR bahwa BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi. "Kami masih ada ruang menurunkan BI rate ke depan dengan inflasi yang rendah dan salah satunya juga mendorong pertumbuhan ekonomi," tegas Perry. BI sendiri telah dua kali menurunkan suku bunga sepanjang tahun ini.
Perry menambahkan bahwa kekuatan dolar AS tidak sekuat sebelumnya, dengan sebagian investor beralih ke aset aman seperti emas dan negara berkembang. BI telah menggelontorkan dana Rp132,9 triliun untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas di tengah dampak ekonomi global. BI memproyeksikan nilai tukar rupiah pada 2026 akan berada di kisaran Rp16.000-Rp16.500 per dolar AS.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar