Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Menggila Dekati Rp17.000!

Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Menggila Dekati Rp17.000!

Haluannews Ekonomi – Kinerja nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di hadapan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan sesi perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (6/3/2026). Data dari Refinitiv mencatat, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di zona merah, terdepresiasi 0,15% hingga menyentuh level Rp16.900 per dolar AS.

COLLABMEDIANET

Sejak pembukaan pasar pagi tadi, rupiah memang sudah dibuka dalam posisi melemah di level yang sama dengan penutupan. Kendati demikian, sepanjang hari perdagangan, tekanan terhadap rupiah sempat lebih dalam, mencapai titik terendah Rp16.930 per dolar AS, sebelum akhirnya berhasil memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan.

Rupiah Terkapar Jelang Akhir Pekan, Dolar AS Menggila Dekati Rp17.000!
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah tipis 0,31% ke level 99,017 pada pukul 15.00 WIB. Namun, pelemahan ini terjadi setelah DXY sebelumnya sempat mencatat penguatan tajam sebesar 0,55%, menempatkannya pada jalur kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari setahun terakhir.

Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal, khususnya dinamika pergerakan dolar AS di pasar global. Meskipun dolar AS sempat bergerak melemah pada sesi pagi Jumat, mata uang Paman Sam ini secara keseluruhan masih berada dalam tren penguatan signifikan. Kondisi ini didorong oleh peningkatan permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik yang kembali memanas di Timur Tengah.

Harapan akan meredanya konflik yang sempat muncul kini kembali memudar seiring dengan meningkatnya ketegangan. Situasi ini mendorong pelaku pasar untuk tetap berhati-hati dan cenderung memburu aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Berlanjutnya konflik di Timur Tengah juga dinilai berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi, memperkuat dolar AS, serta memperkecil peluang pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve.

Pada saat yang sama, sentimen risk-off di pasar global masih memberikan ruang bagi dolar AS untuk tetap perkasa dalam jangka pendek, terutama selama premi risiko di pasar energi masih tinggi. Kondisi ini secara otomatis membatasi ruang penguatan bagi mata uang lain, termasuk rupiah. Sebaliknya, situasi geopolitik dan ekonomi global yang tidak menentu ini justru membuka peluang pelemahan yang lebih besar bagi mata uang negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah.

Menyikapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Upaya ini dilakukan melalui berbagai instrumen kebijakan, baik di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) luar negeri maupun melalui intervensi transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar domestik. Demikian dilaporkan Haluannews.id.

Editor: Rohman

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar