Haluannews Ekonomi – Pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (13/02/2025), dibuka cenderung stagnan namun kemudian melemah. Pelemahan ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang melampaui ekspektasi pasar. Haluannews.id mencatat, rupiah dibuka di level Rp16.360/US$, namun hanya dalam tiga menit, rupiah tertekan hingga ke angka Rp16.385/US$, atau melemah 0,15%.

Related Post
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09:03 WIB terpantau turun tipis 0,08% ke angka 107,86. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan kemarin (12/2/2025) di level 107,94. Namun, sentimen negatif dari data inflasi AS yang di atas konsensus tetap menekan rupiah.

Inflasi AS pada Januari 2025 mengalami lonjakan signifikan. Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi mencapai 0,5%, angka tertinggi sejak Agustus 2023. Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi melonjak 3,0%, level tertinggi sejak Juni 2024. Inflasi inti juga tercatat naik menjadi 3,3% (yoy) pada Januari 2025, dibandingkan 3,2% pada Desember 2024. Angka-angka ini melampaui proyeksi pasar yang memperkirakan inflasi 0,3% (mtm) dan 2,9% (yoy).
Pernyataan Ketua The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, turut memberikan tekanan. Dalam kesaksiannya di depan Komite Layanan Keuangan DPR AS, Powell menyatakan bahwa meskipun data CPI menunjukkan kemajuan, angka tersebut masih di bawah target 2%. Ia menegaskan komitmen The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk saat ini dan tidak terburu-buru memangkas suku bunga.
Kedua faktor ini, data inflasi AS yang mengejutkan dan sikap hati-hati Powell, diprediksi akan menghambat penguatan rupiah dalam waktu dekat, bahkan berpotensi mendorong rupiah menuju level Rp 16.400 per dolar AS. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan pemerintah.











Tinggalkan komentar