Rupiah Terancam Akibat Pelarian Modal Global

Rupiah Terancam Akibat Pelarian Modal Global

haluannews.id – Nilai tukar rupiah saat ini tengah berada dalam posisi yang cukup rawan. Kondisi ini dipicu oleh fenomena global yang dikenal sebagai capital flight, atau pelarian modal besar-besaran oleh para investor asing dari pasar negara berkembang menuju negara-negara yang dianggap lebih aman.

COLLABMEDIANET

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa ketidakpastian ekonomi global telah mendorong investor untuk mencari perlindungan aset. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, dolar Amerika Serikat masih dipandang sebagai instrumen yang paling aman bagi para pemegang modal. Akibatnya, terjadi arus keluar modal (capital outflow) yang signifikan dari berbagai negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia.

Rupiah Terancam Akibat Pelarian Modal Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Destry menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar perpindahan dana biasa, melainkan sebuah strategi mitigasi risiko oleh investor global. Mereka cenderung menarik investasi dari pasar yang dianggap berisiko tinggi dan memindahkannya ke aset-aset yang menawarkan stabilitas lebih tinggi, terutama dalam bentuk mata uang dolar.

Dampak dari pelarian modal ini tidak hanya menyerang nilai tukar rupiah secara langsung, tetapi juga merambah ke pasar surat berharga. Destry mencatat bahwa investor asing mulai melepas kepemilikan mereka pada Surat Berharga Negara (SBN) serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal inilah yang menyebabkan terjadinya arus keluar dana yang cukup masif pada instrumen-instrumen keuangan domestik tersebut.

Kondisi ini menciptakan efek domino pada pasar obligasi. Ketika investor asing melakukan aksi jual secara besar-besaran terhadap SBN, imbal hasil atau yield obligasi dalam negeri cenderung mengalami kenaikan. Kenaikan yield ini menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami tekanan jual yang kuat.

Lebih lanjut, Destry menyoroti menyempitnya selisih (spread) antara imbal hasil SBN dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Saat ini, imbal hasil US Treasury tercatat berada di level sekitar 5,3 persen, sementara yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2 persen.

Menyempitnya selisih keuntungan ini membuat daya tarik investasi di Indonesia menjadi berkurang di mata investor global. Jika selisih antara imbal hasil di negara berkembang dengan Amerika Serikat semakin kecil, maka insentif bagi investor untuk tetap menanamkan modalnya di negara seperti Indonesia akan semakin menipis. Hal inilah yang memperkuat tren outflow di negara-negara berkembang, karena investor merasa lebih rasional untuk memindahkan dana mereka ke pasar Amerika Serikat yang menawarkan keamanan lebih tinggi dengan imbal hasil yang kini semakin kompetitif.

Bank Indonesia terus memantau dinamika pasar ini dengan saksama guna memastikan stabilitas moneter tetap terjaga di tengah gempuran arus modal keluar yang menekan nilai tukar rupiah.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar