Haluannews Ekonomi – Jelang akhir 2024, Rupiah kembali tertekan. Net foreign sell di pasar modal dalam negeri yang sudah berlangsung selama 9 pekan terakhir mencapai angka fantastis: Rp 47 triliun! Akibatnya, kurs Rupiah ambles hingga menembus Rp 16.000 per dolar AS pada Senin (16/12/2024). Kondisi ini memicu pertanyaan besar: apa langkah Bank Indonesia selanjutnya?

Related Post
Doni Firdaus, Direktur Bahana TCW Investment Management, mengungkapkan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS menjadi faktor utama pelemahan Rupiah. Kebijakan proteksionisme Trump dikhawatirkan akan memicu inflasi global, membuat investasi di pasar AS lebih menarik bagi investor asing. Alhasil, dana asing berbondong-bondong keluar dari Indonesia.

Situasi ini memunculkan pertanyaan krusial seputar analisis pasar terhadap Rupiah dan investasi di pasar modal Indonesia. Bagaimana dampaknya terhadap kebijakan suku bunga The Fed dan, yang lebih penting, Bank Indonesia? Untuk menjawabnya, Haluannews.id menghadirkan wawancara eksklusif Anneke Wijaya dengan Doni Firdaus dalam program Power Lunch, yang membahas secara mendalam dinamika pasar dan langkah strategis yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan ini. Saksikan selengkapnya untuk mengetahui strategi menghadapi gejolak ekonomi global yang berdampak langsung pada Rupiah.










Tinggalkan komentar