Haluannews Ekonomi – Hanya tersisa dua hari perdagangan di tahun 2024, namun pergerakan rupiah terhadap dolar AS masih menyimpan potensi volatilitas. Mata uang Garuda tampak masih berkonsolidasi di kisaran Rp16.000/US$, menunjukkan minimnya katalis penguatan menjelang akhir tahun.

Related Post
Data Haluannews.id mencatat pelemahan rupiah sebesar 0,09% ke level Rp16.185/US$ sebelum Natal. Kondisi ini bertolak belakang dengan penguatan 0,12% ke Rp16.170/US$ pada 23 Desember 2024. Pelemahan ini terjadi di tengah sejumlah tantangan global yang terus dipantau Bank Indonesia (BI), termasuk perkembangan ekonomi AS, kebijakan ekonomi pemerintahan baru, dan situasi geopolitik internasional.

BI berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai langkah, mulai dari pengaturan suku bunga acuan (BI rate), intervensi pasar, hingga pengelolaan arus modal asing. "Kami berada di pasar untuk menjaga kepercayaan dan daya tarik investasi," jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Edi Susianto, kepada Haluannews.id. Koordinasi dengan pemerintah, OJK, dan pelaku industri juga terus dilakukan untuk memastikan keselarasan kebijakan dan mencegah persepsi yang salah di pasar. Komunikasi intensif dengan eksportir, importir, dan perbankan pun menjadi kunci strategi BI.
Di kawasan Asia, pasar mencermati rencana stimulus ekonomi Tiongkok untuk tahun depan. Laporan menunjukkan peningkatan pengeluaran fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi dampak perang dagang.
Secara teknikal, pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam basis per jam masih menunjukkan tren menurun. Potensi pelemahan terlihat di level Rp16.285/US$, sementara potensi penguatan berada di level Rp16.050/US$, berdasarkan data intraday.




Tinggalkan komentar