Haluannews Ekonomi – Nilai tukar rupiah menunjukkan taringnya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis (22/1/2026). Mata uang Garuda berhasil menekan dominasi greenback, menembus level Rp16.900 per dolar AS.

Related Post
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka pada level Rp16.900/US$, mencatatkan apresiasi sebesar 0,18%. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang terjadi sehari sebelumnya, di mana rupiah berhasil menutup perdagangan dengan kenaikan 0,09% pada posisi Rp16.930/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di level 98,762 pada pukul 09.00 WIB. Pada perdagangan kemarin, DXY hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,12% dan berakhir di posisi 98,761.
Pergerakan rupiah hari ini diprediksi akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, pasar global cenderung lebih tenang setelah Presiden AS Donald Trump meredakan ketegangan kebijakan. Penarikan kembali ancaman tarif dan penegasan bahwa AS tidak akan merebut Greenland dengan paksa, memberikan angin segar bagi aset berisiko seperti saham. Akibatnya, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas mengalami penurunan.
Kondisi "risk-on" ini umumnya memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil. Kendati demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati mengingat dinamika kebijakan AS yang dinilai masih sangat fluktuatif.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dinilai belum sepenuhnya mereda. Faisal Rachman, Head of Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank, berpendapat bahwa pelemahan rupiah belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik, terutama isu independensi Bank Indonesia serta risiko melebarnya defisit ganda (twin deficit).
Menurut Faisal, kelanjutan perang dagang global berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, sementara kebijakan pro-pertumbuhan juga dapat meningkatkan defisit fiskal.
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar