Haluannews Ekonomi – Sektor perbankan Indonesia menghadapi tantangan likuiditas di semester I-2025, terutama saat Ramadan, Idul Fitri, dan pembayaran dividen. Namun, semester II-2025 diprediksi membawa angin segar. Penurunan suku bunga acuan BI sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dan revisi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) – wajib disimpan 100% di dalam negeri selama setahun – menjadi katalis positif.

Related Post
Hal ini disampaikan dalam riset CGS International. Penurunan BI Rate, tren penurunan kurva imbal hasil SRBI, dan revisi aturan repatriasi DHE dipercaya meringankan tantangan likuiditas dan tekanan biaya dana. Lelang SRBI 24 Januari 2025 menunjukkan penurunan rata-rata bunga untuk tenor 3, 9, dan 12 bulan.

BNI (BBNI) diprediksi menjadi salah satu bank yang diuntungkan. CGS memproyeksikan pertumbuhan kredit BBNI mencapai 8-10% tahun ini, didukung likuiditas yang membaik. Direktur Utama BBNI, Royke Tumilaar, menilai penurunan suku bunga acuan sebagai sinyal positif bagi prospek ekonomi dan ekspansi kredit.
Strategi transformasi digital BBNI, khususnya aplikasi mobile banking Wondr, juga berkontribusi. Wondr meningkatkan transaksi nasabah ritel, dengan pengguna aktif melonjak dari 30% menjadi 65%. Jumlah pengguna mencapai 5,3 juta pada Desember 2024.
Saham BBNI pun menunjukkan performa apik, ditutup di Rp 4.770 pada Jumat (31/1), naik 2,8% – tertinggi di antara bank-bank BUMN lainnya. CGS mempertahankan rating buy untuk BBNI dengan target harga Rp 6.000, potensi keuntungan hingga 25,79%.




Tinggalkan komentar