Haluannews Ekonomi – Induk perusahaan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang terdaftar di bursa Singapura, berencana melakukan privatisasi atau delisting. Hal ini memicu pertanyaan besar: siapa yang akan menguasai seluruh saham emiten pangan ternak raksasa ini setelah proses tersebut rampung?

Related Post
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen JPFA menyatakan bahwa Japfa Ltd, pemegang saham mayoritas, bersama Keluarga Santosa telah mengajukan rencana privatisasi melalui skema tertentu pada 24 Januari 2025. Jika skema ini berhasil, Keluarga Santosa akan mengakuisisi seluruh saham minoritas Japfa Ltd, sehingga menguasai 100% saham dan menyebabkan delisting dari Bursa Efek Singapura (SGX).

Manajemen menekankan bahwa Keluarga Santosa, yang juga merupakan pemegang saham mayoritas di Japfa Ltd dan JPFA, akan tetap mengendalikan JPFA. Privatisasi dan delisting Japfa Ltd tidak akan mengubah manajemen, bisnis, maupun kelangsungan usaha Grup JPFA. JPFA akan tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kepemilikan mayoritas yang masih dipegang Keluarga Santosa, dan tidak ada rencana aksi korporasi lainnya.
Lantas, siapakah sosok di balik kekuasaan ini? Handojo Santosa, pemilik mayoritas Japfa, adalah kunci jawabannya. Berdasarkan laporan Forbes tahun 2020, kekayaannya mencapai US$ 735 miliar, menempatkannya di daftar orang terkaya Indonesia. Japfa, perusahaan yang bergerak di bidang makanan, memproduksi berbagai produk pangan seperti protein, produk susu, dan makanan kemasan, termasuk susu segar Greenfields di Indonesia. Perusahaan ini juga memiliki portofolio investasi yang luas, termasuk kemitraan strategis dan divestasi saham seperti penjualan 25% saham unit susu di Tiongkok kepada Meiji pada Juli 2020. KKR, perusahaan private equity, juga diketahui memiliki 10% saham di Japfa Comfeed, salah satu unit bisnis Japfa. Langkah privatisasi ini pun semakin meneguhkan posisi Keluarga Santosa di puncak kerajaan bisnis pangan tersebut.




Tinggalkan komentar