Haluannews Ekonomi – Fenomena "anak pejabat" yang sukses meniti karier atau meraih kekuasaan dengan modal nama besar orang tua kian marak menjadi sorotan publik. Praktik "menjual" nama besar keluarga untuk mendulang simpati, hormat, atau bahkan posisi strategis, seolah menjadi jalan pintas yang lumrah. Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, kisah seorang tokoh dari masa lalu menawarkan perspektif yang kontras dan mendalam tentang integritas serta kemandirian ekonomi yang patut menjadi teladan. Dialah Soesalit, putra tunggal pahlawan nasional R.A. Kartini.

Related Post
Meski namanya tak sepopuler sang ibu, R.A. Kartini, Soesalit justru memilih jalan yang berbeda. Keredupan namanya di mata publik bukan karena ia tak mampu, melainkan karena keputusan sadarnya untuk tidak mendompleng nama besar ibunya demi meraih kesuksesan. Sebuah prinsip yang langka, terutama jika dibandingkan dengan tren saat ini.

Lahir dari keluarga terpandang, Soesalit sebenarnya memiliki privilege yang luar biasa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Djojadiningrat, adalah Bupati Rembang, sementara ibunya, Kartini, kelak dikenal sebagai pelopor emansipasi wanita dengan pemikiran visioner yang melampaui zamannya. Kesempatan emas untuk melanjutkan trah kekuasaan di Rembang terbuka lebar baginya, bahkan banyak kerabat yang mendesaknya. Namun, Soesalit dengan tegas menolaknya.
Pilihannya jatuh pada jalur militer. Pada tahun 1943, ia bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) setelah dilatih oleh tentara Jepang. Ketika proklamasi kemerdekaan berkumandang, Soesalit secara otomatis menjadi bagian dari Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia (TKR). Dari sinilah, kariernya perlahan menanjak, bukan karena privilege, melainkan berkat dedikasi dan keberaniannya di medan perang.
Menurut Sitisoemandari Soeroto dalam "Kartini: Sebuah Biografi" (1979), Soesalit selalu terlibat dalam berbagai pertempuran melawan Belanda, yang membuatnya cepat naik pangkat dan namanya kian dikenal di kalangan militer. Puncak kariernya sebagai tentara terjadi pada tahun 1946, ketika ia diangkat menjadi Panglima Divisi II Diponegoro, sebuah posisi krusial yang bertugas menjaga ibukota negara di Yogyakarta kala itu. Ia bahkan sempat memegang jabatan sipil, salah satunya sebagai penasihat Menteri Pertahanan di Kabinet Ali Sastro pada tahun 1953.
Yang menarik, di puncak kariernya pun, identitasnya sebagai putra semata wayang R.A. Kartini nyaris tak terendus. Soesalit memang sengaja tak pernah mengumbar atau "menjual" nama besar ibunya, meskipun kisah-kisah Kartini dan perjuangannya sudah menjadi inspirasi serta populer dengan lagu "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R. Soepratman.
Jenderal Nasution, salah satu saksi mata, mengisahkan bagaimana Soesalit tetap memegang teguh prinsipnya. Setelah tak lagi bertugas, Soesalit memilih hidup sederhana sebagai veteran, bahkan menolak hak-hak yang seharusnya ia terima. Nasution, seperti dikutip dari "Kartini: Sebuah Biografi" (1979), melihat bahwa Soesalit sebenarnya bisa saja hidup lebih makmur jika saja ia mau mengutarakan bahwa dirinya adalah satu-satunya putra Kartini. Simpati dan bantuan tentu akan mengalir deras, yang bisa mengubah nasib jenderal bintang dua tersebut.
Namun, Soesalit tetap memegang teguh prinsipnya: tidak mau mengutarakan bahwa dirinya adalah keturunan Kartini. Akibat prinsip ini, pria kelahiran Rembang ini tetap memilih jalan sunyi, jalan integritas yang mengorbankan kenyamanan materi demi sebuah prinsip yang tak ternilai, hingga tutup usia pada 17 Maret 1962.
Kisah Soesalit menjadi pengingat berharga bagi generasi kini, terutama mereka yang berada di lingkaran kekuasaan atau memiliki warisan nama besar. Bahwa kesuksesan sejati tidak selalu diukur dari warisan nama atau harta, melainkan dari keteguhan prinsip, kemandirian, dan kemampuan membangun nilai diri tanpa mendompleng popularitas orang lain. Sebuah pelajaran ekonomi dan etika yang relevan sepanjang masa.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar