Haluannews Ekonomi – Pasar keuangan global kembali dihadapkan pada ketidakpastian yang mendalam pada Kamis (9/4/2026), menyusul memanasnya kembali ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Sentimen investor di bursa Asia-Pasifik bergerak bervariasi, mencerminkan kekhawatiran setelah parlemen Iran menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan.

Related Post
Sebelumnya, harapan mereda sempat menyelimuti pasar. Berdasarkan informasi yang dihimpun Haluannews.id, Presiden AS Donald Trump pada Rabu pekan lalu mengumumkan gencatan senjata "dua arah" setelah lebih dari sebulan konflik berkecamuk dengan Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan menghentikan serangan terhadap Iran selama dua pekan sebagai landasan untuk membuka ruang negosiasi.

Trump juga mengindikasikan telah menerima proposal 10 poin dari Teheran yang dinilai cukup layak untuk menjadi dasar perundingan. Namun, kesepakatan ini sangat bergantung pada kesediaan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi urat nadi pasokan energi global. Pemerintah Teheran sendiri menyatakan akan menghentikan operasi defensif jika serangan terhadap wilayahnya dihentikan sepenuhnya. Israel juga dilaporkan menyetujui gencatan senjata tersebut, meskipun situasi di kawasan masih sangat rapuh.
Namun, optimisme tersebut tampaknya berumur pendek. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menuduh Amerika Serikat telah mengingkari kesepakatan tersebut. Ia menyebut pelanggaran meliputi penolakan hak Iran untuk memperkaya uranium, serangan Israel di Lebanon, serta intrusi drone ke wilayah udara Iran. Tuduhan ini sontak memicu kembali kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Reaksi pasar terhadap perkembangan ini langsung terlihat. Di bursa Asia, sentimen ‘wait and see’ investor mendominasi. Indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 0,6% sementara Kosdaq stagnan. Di Jepang, Nikkei 225 menguat tipis 0,12% dan Topix naik 0,26%. Sebaliknya, S&P/ASX 200 Australia melemah 0,24%, menunjukkan keragaman respons di tengah ketidakpastian.
Sektor energi menjadi yang paling sensitif. Harga minyak dunia melonjak signifikan seiring kekhawatiran akan gangguan pasokan global akibat ketidakpastian geopolitik yang kembali meninggi. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 2,3% menjadi US$96,63 per barel, dan Brent kontrak Juni menguat 1,87% ke US$96,50 per barel.
Di pasar berjangka AS, indikasi pelemahan juga terlihat. Kontrak S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun 0,1%. Sementara itu, kontrak Dow Jones Industrial Average melemah 32 poin atau kurang dari 0,1%, mengisyaratkan sentimen negatif yang merambat ke pasar Barat.
Kontras dengan kondisi saat ini, perdagangan sebelumnya di Wall Street sempat menunjukkan euforia. Pasar saham AS melonjak tajam setelah pengumuman awal gencatan senjata. Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 1.325,46 poin atau 2,85% ke 47.909,92, mencatat kenaikan harian terbaik sejak April 2025. Indeks S&P 500 naik 2,51% ke 6.782,81, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,80% ke 22.635,00. Kenaikan ini terjadi setelah konflik selama lima pekan yang sempat mengganggu jalur penting pasokan energi global mulai mereda.
Dengan tuduhan pelanggaran gencatan senjata ini, investor kembali masuk ke mode kehati-hatian. Prospek negosiasi damai antara AS dan Iran kini dipertanyakan, meninggalkan pasar global dalam ketidakpastian yang berkelanjutan dan memicu kewaspadaan terhadap potensi gejolak ekonomi yang lebih luas.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar