Haluannews Ekonomi – Industri baja nasional tengah dihadapkan pada gelombang tantangan signifikan, terutama dari gempuran produk impor baja asal Tiongkok yang membanjiri pasar. Ditambah lagi, kehadiran pemain baru di sektor ini yang tidak sepenuhnya berakar dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kian mengikis daya saing produk baja domestik. Situasi pelik ini dipaparkan oleh Chief Strategy and Business Development Officer PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) atau SPINDO, Johanes W Edward, dalam sebuah dialog di Haluannews.id.

Related Post
Menyikapi tekanan pasar yang ketat, SPINDO tidak tinggal diam. Perusahaan baja terkemuka ini aktif menggenjot implementasi praktik industri berkelanjutan sebagai strategi fundamental. Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah adopsi energi bersih melalui pemanfaatan panel surya. Inisiatif ini bukan sekadar upaya ramah lingkungan, melainkan juga kunci strategis untuk memastikan produk baja Indonesia mampu bersaing dan diterima di kancah pasar global.

Penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap telah sukses di tujuh kawasan pabrik SPINDO. Selain memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan, penggunaan teknologi ini juga dirancang untuk mendongkrak efisiensi operasional bisnis secara signifikan. Dengan demikian, SPINDO menargetkan peningkatan laba hingga 10% pada akhir tahun 2025. Tak hanya itu, perusahaan juga membidik ekspansi pasar yang lebih luas, khususnya dengan menambah lini produk baja untuk memenuhi kebutuhan sektor minyak dan gas (migas) yang memiliki potensi besar.
Strategi komprehensif SPINDO dalam menghadapi tantangan global dan memperkuat posisinya di pasar ini dibahas lebih mendalam oleh Johanes W Edward dalam program Manufacture Check, Haluannews.id, pada Senin (15/12/2025).
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar