haluannews.id – Kondisi pasar keuangan domestik tengah mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (28/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam, sementara nilai tukar rupiah kian mendekati level psikologis yang mengkhawatirkan bagi para pelaku pasar.

Related Post
Berdasarkan data penutupan perdagangan sesi kedua, IHSG merosot sebesar 1,51% atau kehilangan 94 poin, sehingga kini bertengger di level 6.147,86. Tren negatif ini juga merambat ke pasar valuta asing, di mana rupiah terdepresiasi 0,53% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda kini berada di posisi Rp17.965 per dolar AS, hanya terpaut tipis 35 poin dari angka kritis Rp18.000.

Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), dominasi pergerakan saham berada di zona merah. Tercatat sebanyak 532 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 180 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi menjadi kelompok yang paling terpukul dengan koreksi terdalam. Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang relatif mampu bertahan meski tetap mengalami penurunan tipis.
Badai Dolar dan Tekanan Inflasi Global
Melemahnya rupiah tidak lepas dari penguatan masif dolar AS di kancah global. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa fenomena strong dollar ini dipicu oleh langkah agresif The Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Bahkan, pasar memprediksi bank sentral AS tersebut akan kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV-2026.
Kenaikan suku bunga ini membuat aset berdenominasi dolar menjadi jauh lebih menarik bagi investor, yang kemudian memicu indeks dolar (DXY) menembus level 101. Selain faktor suku bunga, inflasi global yang menyentuh angka 4,6% turut memperkeruh suasana. Tekanan inflasi ini diperparah oleh lonjakan harga komoditas energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Harga minyak dunia bahkan sempat menyentuh angka US$125,53 per barel, melonjak jauh dari rata-rata Agustus yang hanya di kisaran US$90,88 per barel.
Menanggapi situasi ini, BI menegaskan akan fokus pada kebijakan moneter yang pro-stabilitas guna menjaga nilai tukar rupiah dan stabilitas eksternal, sembari tetap mengupayakan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kebijakan Baru BEI dan Dampak ke IHSG
Di sisi pasar modal, anjloknya IHSG juga berkaitan erat dengan implementasi kebijakan baru dari Bursa Efek Indonesia. Mulai Senin (28/9/2026), BEI resmi menghapus batas minimum perdagangan saham di pasar reguler dan tunai. Jika sebelumnya harga terendah saham ditetapkan pada Rp50 per lembar, kini aturan tersebut diturunkan menjadi hanya Rp1 per lembar.
Langkah ini diambil untuk meningkatkan kualitas price discovery dan memberikan fleksibilitas lebih bagi investor dalam mengelola portofolio. Namun, perubahan aturan mengenai batasan harga minimum dan penyesuaian mekanisme Auto Rejection (AR) ini tampaknya memberikan sentimen volatilitas tinggi di awal pemberlakuannya. Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti GOTO, AMMN, dan BRMS tercatat menjadi salah satu faktor utama yang menyeret turun indeks pada hari ini. Melansir laporan dari haluannews.id, para pelaku pasar kini tengah mengamati bagaimana kebijakan baru ini akan mempengaruhi likuiditas pasar dalam jangka panjang.










Tinggalkan komentar