Haluannews Ekonomi – Lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di atas level US$ 80 per barel memicu kekhawatiran serius di pasar global, terutama terkait risiko eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi ini, menurut Ronny Setiawan, Executive Director, Head of Trading Global Finance Markets Bank DBS Indonesia, berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Related Post
Dalam dialog eksklusif bersama Haluannews.id pada Selasa (17/03/2026), Ronny menjelaskan bahwa harga minyak yang masih tinggi mengindikasikan bahwa ketegangan di kawasan tersebut belum mereda. Bagi Indonesia, kondisi ini bukan sekadar angka di pasar komoditas, melainkan ancaman nyata yang dapat berimbas pada tekanan berat terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dampak domino dari kenaikan harga minyak ini diperkirakan akan memicu pelemahan nilai tukar Rupiah, melebarnya defisit APBN akibat subsidi energi yang membengkak, serta potensi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari pembuat kebijakan moneter dan fiskal.
Tidak hanya itu, dinamika geopolitik ini juga akan sangat memengaruhi arah kebijakan bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat dan Bank Indonesia (BI). Ronny memprediksi bahwa kedua bank sentral tersebut kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada Maret 2026, sebagai respons terhadap ketidakpastian global dan tekanan inflasi yang mungkin timbul.
Namun, di tengah proyeksi penahanan suku bunga tersebut, terdapat secercah harapan bagi perekonomian domestik. Ronny Setiawan melihat adanya peluang bagi Bank Indonesia untuk memangkas level BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) hingga akhir tahun 2026, asalkan kondisi ekonomi global dan domestik menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang stabil dan tekanan inflasi mereda. Ini mengindikasikan bahwa meskipun tantangan besar membayangi, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter tetap terbuka di masa mendatang, namun "bukan hari ini" melainkan di penghujung tahun.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar