Haluannews Ekonomi – Harga minyak mentah global kembali menunjukkan tren kenaikan signifikan pada perdagangan Selasa pagi (26/5), membalikkan koreksi tajam yang terjadi sehari sebelumnya. Sentimen pasar bergeser dari optimisme menuju keraguan mendalam terkait prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang kini terlihat semakin jauh dari kenyataan. Data Refinitiv menunjukkan, harga minyak Brent kontrak Juli diperdagangkan di level US$98,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$91,77 per barel pada pukul 09.35 WIB.

Related Post
Lonjakan harga ini terjadi setelah Brent sempat tergelincir hingga US$96,14 per barel pada penutupan Senin, sebuah penurunan drastis dari US$103,54 pada 22 Mei dan puncaknya di US$112,1 per barel pada 18 Mei. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, Brent telah kehilangan lebih dari US$15. Pola serupa juga dialami WTI, yang kini bergerak di kisaran US$91 setelah sempat menyentuh US$108,66 per barel pada 18 Mei.

Awal pekan ini, pasar sempat diliputi euforia ketika sinyal-sinyal positif mengindikasikan Washington dan Teheran semakin dekat pada penandatanganan nota kesepahaman damai. Salah satu poin krusial yang diharapkan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.
Namun, optimisme tersebut kini meredup. Laporan Reuters menyebutkan bahwa pejabat tinggi Iran memang tengah berada di Doha, Qatar, untuk berdiskusi dengan AS melalui mediasi Perdana Menteri Qatar. Kendati demikian, baik Washington maupun Teheran secara bersamaan telah meredam ekspektasi pasar akan terobosan cepat. Presiden AS Donald Trump bahkan menginstruksikan tim negosiasinya untuk tidak tergesa-gesa. Ia menegaskan, blokade terhadap kapal Iran di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan resmi ditandatangani.
Pasar kini menyadari bahwa jalan menuju perdamaian masih terjal dan dipenuhi detail rumit yang belum terselesaikan. Isu pelepasan aset Iran yang dibekukan di berbagai negara, masa depan program nuklir Teheran, serta peran Israel dalam perundingan, semuanya menjadi sumber ketidakpastian yang signifikan. Media Iran, Tasnim, bahkan mengindikasikan bahwa Washington masih menjadi penghalang bagi beberapa klausul kunci, khususnya terkait pencairan dana hasil penjualan minyak Iran yang selama ini tertahan akibat sanksi.
Di tengah alotnya negosiasi, militer AS pada Senin melancarkan serangan di wilayah selatan Iran. Targetnya adalah kapal yang diduga tengah memasang ranjau laut serta lokasi peluncur rudal. Washington mengklaim operasi ini sebagai langkah defensif untuk melindungi kepentingannya.
Situasi ini memaksa pasar energi untuk kembali mengevaluasi ulang risiko terhadap pasokan global. Perhatian utama investor tetap tertuju pada Selat Hormuz, sebuah jalur maritim vital yang berfungsi sebagai arteri utama distribusi minyak dunia. Konflik yang berkepanjangan dan potensi blokade di kawasan tersebut dapat mengganggu arus pasokan dari Timur Tengah, yang telah mendorong kenaikan harga energi secara signifikan sepanjang Mei. Laporan Nikkei menyebutkan bahwa AS dan Iran sedang mendiskusikan pembukaan Hormuz sekitar 30 hari setelah kesepakatan tercapai, namun tanggal pasti penandatanganan perjanjian masih menjadi tanda tanya besar.
Keraguan yang menyelimuti perundingan ini tecermin jelas dalam pergerakan pasar global. Bursa saham Asia menunjukkan performa yang bervariasi pada Selasa pagi, dengan indeks Nikkei Jepang melemah tipis setelah sempat melonjak lebih dari 3% sehari sebelumnya karena optimisme damai. Dolar AS kembali menguat, didorong oleh peningkatan permintaan terhadap aset safe-haven. Sementara itu, pasar obligasi masih dihantui oleh kekhawatiran inflasi. Kenaikan harga energi dalam beberapa pekan terakhir telah memicu spekulasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, baik di negara maju maupun pasar berkembang.
Eric Robertsen, Kepala Riset Global Standard Chartered, menegaskan bahwa gangguan pasokan komoditas tidak akan mereda dalam waktu dekat. Ia menambahkan, dampak konflik geopolitik dan kebutuhan akan dukungan fiskal pemerintah berpotensi memperparah kondisi utang negara, terutama di tengah biaya pendanaan yang semakin mahal.
Haluannews.id (emb/emb)
Editor: Rohman











Tinggalkan komentar