Mengapa Rupiah Rentan Melemah Terhadap Dolar

Mengapa Rupiah Rentan Melemah Terhadap Dolar

haluannews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi. Fenomena fluktuasi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai apa sebenarnya faktor utama yang membuat mata uang Garuda tampak rapuh saat berhadapan dengan mata uang hijau tersebut. Menanggapi kegelisahan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, akhirnya buka suara mengenai akar permasalahan yang terjadi.

COLLABMEDIANET

Menurut Destry, penyebab utama kerentanan rupiah terletak pada kondisi defisit transaksi berjalan atau yang secara teknis dikenal sebagai current account deficit (CAD). Ia menjelaskan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia secara historis memang sering menghadapi tantangan berupa posisi transaksi berjalan yang negatif. Kondisi ini merupakan pola yang umum terjadi, kecuali pada masa pandemi Covid-19 lalu, di mana aktivitas ekonomi global dan domestik sempat melambat secara drastis.

Mengapa Rupiah Rentan Melemah Terhadap Dolar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Indonesia ini adalah negara berkembang. Kita selalu menghadapi defisit transaksi berjalan, kecuali pada saat pandemi Covid-19 ketika aktivitas ekonomi sedang melemah. Negara dengan kondisi defisit transaksi berjalan seperti ini cenderung memiliki mata uang yang lebih rentan terhadap tekanan eksternal," ujar Destry dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa stabilitas transaksi berjalan sangat bergantung pada aliran modal yang masuk ke dalam negeri. Agar rupiah tidak mudah terguncang, Indonesia membutuhkan arus modal yang kuat, terutama yang bersifat permanen atau investasi jangka panjang. Kehadiran investasi jangka panjang ini sangat krusial karena memberikan fondasi yang lebih kokoh bagi cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar dibandingkan dengan modal jangka pendek yang bersifat spekulatif.

Data terbaru menunjukkan bahwa tantangan ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Indonesia mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan yang cukup signifikan, yakni mencapai US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2024. Angka ini setara dengan 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, lonjakan defisit ini terlihat sangat tajam, yakni meningkat sekitar 3,5 kali lipat dari angka US$ 3,6 miliar atau 1% dari PDB pada kuartal I-2024.

Lonjakan defisit yang drastis ini dipicu oleh beberapa faktor fundamental. Salah satu pemicu utamanya adalah membengkaknya biaya impor migas akibat kenaikan harga minyak mentah di pasar global. Di sisi lain, surplus pada neraca perdagangan non-migas juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan impor domestik yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan ekspor.

Kondisi ini menempatkan otoritas moneter pada posisi yang menantang untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar. Pemerintah dan Bank Indonesia kini dituntut untuk terus memperkuat daya tarik investasi jangka panjang guna menambal defisit tersebut dan memberikan perlindungan bagi rupiah dari gempuran dolar AS.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar