Haluannews Ekonomi – Shahezad Contractor, seorang pengusaha restoran asal Amerika Serikat, tengah menjadi sorotan di industri makanan cepat saji. Dengan merek Cousin’s Burger, ia secara berani menantang dominasi pemain besar seperti In-N-Out dan Shake Shack di pasar Amerika Serikat, khususnya di segmen makanan halal yang sedang berkembang pesat.

Related Post
Ambisi Contractor tidak main-main. "Target kami adalah menjadi In-N-Out berikutnya atau Shake Shack berikutnya," tegasnya, sebagaimana dilaporkan Haluannews.id Internasional. Didirikan pada tahun 2024, Cousin’s Burger kini telah memiliki delapan gerai strategis yang tersebar di tiga negara bagian: Pennsylvania, New Jersey, dan Delaware. Jaringan restoran ini beroperasi di bawah payung Cousin’s Food Inc., sebuah entitas bisnis yang berbasis di Philadelphia.

Diversifikasi bisnis menjadi kunci strategi Contractor. Selain Cousin’s Burger, ia juga merambah sektor kuliner lain melalui Cousin’s Pizza dan Cousin’s Smokehouse and Burgers. Kombinasi seluruh lini usaha restorannya berhasil membukukan pendapatan fantastis, mencapai lebih dari US$4 juta atau setara dengan sekitar Rp67 miliar sepanjang tahun 2025.
Contractor memiliki pandangan tajam terhadap potensi pasar. Ia meyakini bahwa pasar makanan halal di Amerika Serikat masih sangat luas dan belum tergarap secara optimal. "Anda tidak harus menjadi Muslim untuk menikmati makanan halal," jelasnya. Ia menggarisbawahi bahwa preferensi konsumen terhadap daging halal tidak hanya didasari oleh keyakinan, melainkan juga karena kualitas, kebersihan, serta proses penyembelihan yang dianggap lebih manusiawi. Menurut Contractor, di luar Halal Guys, opsi makanan halal arus utama di AS masih sangat terbatas, sebuah kondisi yang ingin ia ubah.
Perjalanan Contractor ke dunia kuliner bukanlah sesuatu yang direncanakan. Selama 24 tahun, ia mendedikasikan kariernya di sektor teknologi informasi. Namun, sebuah titik balik krusial terjadi pada tahun 2023. Kala itu, ia mencoba peruntungan dengan menjual smashburger di sebuah festival makanan halal. Respons pasar sungguh di luar ekspektasi: 500 porsi habis terjual dalam sehari. "Saat itulah saya menyadari bahwa ada potensi besar," kenangnya. Kesuksesan instan ini memicu Contractor untuk membuka gerai pertamanya di Philadelphia, sebuah kota yang ia anggap strategis berkat populasi Muslimnya yang signifikan.
Dalam operasionalnya, Contractor berpegang teguh pada tiga pilar utama: penggunaan bahan baku berkualitas tinggi, resep yang sederhana namun otentik, serta layanan pelanggan yang prima. Smashburger, menu andalan mereka, dibanderol antara US$7 hingga US$8 per porsi. Meski demikian, Contractor tidak menampik adanya tekanan biaya yang menjadi tantangan serius. "Saya ingin bisa menjual burger seharga US$4, tapi itu tidak mungkin. Secara ekonomi tidak masuk akal," keluhnya, menyoroti kenaikan signifikan pada harga bahan baku, biaya sewa, dan upah tenaga kerja.
Kendati menghadapi rintangan, optimisme Contractor tak luntur. Ia bahkan rela meninggalkan karier mapannya di sektor IT, didorong oleh potensi bisnis yang menjanjikan sekaligus kekhawatiran akan disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap profesinya. "Membangun sesuatu yang bisa menciptakan kekayaan lintas generasi sangat menarik," ungkapnya. Untuk masa depan, Contractor menargetkan ekspansi agresif, dengan rencana membuka hingga 50 gerai dalam beberapa tahun ke depan, serta membawa Cousin’s Burger menembus pasar global, dimulai dari Kanada. "Saya pikir peluangnya tidak terbatas. Kami akan terus melangkah sampai tidak bisa lagi," tutupnya penuh keyakinan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar