haluannews.id – Kabar membanggakan datang dari sektor pertambangan nasional. Emiten tambang timah milik negara, PT Timah (Persero) Tbk. (TINS), baru saja melaporkan lonjakan kinerja keuangan yang sangat signifikan pada kuartal III tahun 2026. Perusahaan ini berhasil membukukan laba bersih mencapai Rp4,12 triliun, sebuah angka yang mencerminkan pertumbuhan fantastis sebesar 584 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Related Post
Keberhasilan ini tidak lepas dari kondisi pasar komoditas global yang sedang sangat menguntungkan bagi para produsen timah. Berdasarkan data pasar, harga rata-rata cash settlement price (CSP) timah di London Metal Exchange (LME) mengalami kenaikan tajam. Selama sembilan bulan berjalan di tahun ini, harga timah dunia menyentuh angka US$51.636,61 per metrik ton. Jika ditarik perbandingan secara tahunan (year-on-year), angka ini meroket 57,55 persen dari posisi sebelumnya yang hanya berada di level US$32.775,58 per metrik ton.

Kenaikan harga jual di pasar internasional ini menjadi angin segar bagi pendapatan perusahaan. PT Timah mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp16,15 triliun, atau tumbuh hingga 144 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa performa gemilang ini merupakan hasil kombinasi dari dua faktor utama, yakni peningkatan volume penjualan serta kenaikan harga jual rata-rata logam timah yang sangat kompetitif.
Secara lebih mendalam, laba usaha TINS juga menunjukkan tren positif yang luar biasa dengan catatan Rp5,60 triliun, melonjak 594 persen dari sebelumnya yang hanya Rp807,25 miliar. Tak hanya itu, indikator profitabilitas lainnya seperti EBITDA juga meroket 323 persen menjadi Rp6,18 triliun, jauh melampaui pencapaian kuartal III tahun 2025 yang berada di angka Rp1,46 triliun.
Dari sisi operasional, perusahaan juga berhasil meningkatkan produktivitasnya secara masif. Produksi bijih timah tercatat mencapai 18.883 ton Sn, naik 55 persen dibandingkan periode tahun lalu. Sementara itu, produksi logam timah sendiri menyentuh angka 16.190 metrik ton Sn, meningkat 49 persen dari capaian sembilan bulan pertama tahun 2025. Lonjakan produksi ini diikuti dengan volume penjualan logam timah yang mencapai 16.304 metrik ton, tumbuh 72 persen secara tahunan.
Kondisi kesehatan keuangan PT Timah juga terlihat semakin kokoh. Hingga 30 September 2026, total aset perseroan tercatat sebesar Rp17,26 triliun, naik 26 persen dari posisi akhir tahun 2025. Di sisi lain, ekuitas perusahaan juga mengalami penguatan sebesar 42 persen menjadi Rp11,97 triliun. Dengan posisi keuangan yang semakin kuat dan tren harga komoditas yang mendukung, PT Timah tampak siap untuk terus memperkuat dominasinya di pasar logam dunia.








Tinggalkan komentar