Haluannews Ekonomi – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) optimis bahwa gelontoran belanja pemerintah pada semester II-2025 akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan kredit perbankan. Keyakinan ini muncul di tengah tren perlambatan penyaluran kredit yang tercatat sebesar 7,7% secara tahunan pada Juni 2025.

Related Post
Aviliani, Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas, mengungkapkan bahwa kebijakan efisiensi pemerintah di awal tahun sempat menahan laju belanja. Namun, pembukaan kembali keran belanja pemerintah diyakini akan memicu permintaan kredit, terutama dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor-sektor seperti akomodasi, makanan, dan minuman diprediksi akan merasakan dampak positifnya.

Dalam acara Perbanas Review of Indonesia’s Mid-Year Economy 2025, Aviliani menyoroti perlambatan pertumbuhan kredit UMKM dibandingkan sektor lain. Kondisi ini dinilai mempengaruhi pertumbuhan kredit secara keseluruhan. Sementara itu, pertumbuhan permintaan kredit korporasi sangat bergantung pada iklim investasi yang kondusif.
"Jika permintaan meningkat, investasi akan mengikuti. Investasi yang tumbuh akan secara otomatis mendorong penyaluran kredit korporasi," jelas Aviliani.
Lebih lanjut, Aviliani menekankan bahwa industri perbankan pada dasarnya mengikuti arah permintaan kredit di pasar, termasuk belanja pemerintah. Namun, ia mengingatkan bahwa belanja pemerintah sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan dinamika sektor riil.
Data Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan mencapai Rp7.956,4 triliun pada Juni 2025, tumbuh 7,6% secara tahunan. Kredit korporasi mencatat pertumbuhan 10,6% secara tahunan, meskipun melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 11,6% year-on-year (yoy). Haluannews.id mencatat bahwa Perbanas berharap pemerintah dapat memaksimalkan belanja pada semester II untuk mendorong pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Editor: Rohman










Tinggalkan komentar