Haluannews Ekonomi – PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten ke-18 tahun ini, Rabu (9/7/2025). Emiten kripto ini sangat optimistis, bahkan meyakini Indonesia akan menjadi pusat perdagangan aset kripto di Asia Tenggara.

Related Post
Direktur Marketing & Business Development COIN, Adri Martowardojo, melihat potensi pasar kripto dalam negeri sangat menjanjikan. Jumlah pemilik aset kripto terus meningkat, dibuktikan dengan kelebihan permintaan saham COIN yang mencapai 180 kali lipat, dengan lebih dari 200 ribu calon investor. "Ini bukti aset kripto diterima masyarakat," tegas Adri dalam konferensi pers di BEI.

Keunggulan COIN terletak pada anak usahanya, PT Central Finansial X (CFX), bursa aset kripto pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mengawasi perdagangan aset kripto. CFX bahkan disebut sebagai bursa kripto pertama di dunia yang mencatat dan mengawasi transaksi aset kripto. Adri menekankan pentingnya kepercayaan dalam industri ini, dan COIN berkomitmen menjaga kepercayaan investor. Dukungan regulasi dan transparansi dari pemerintah sangat krusial.
Keunggulan lain adalah pajak transaksi kripto yang rendah, hanya 0,21% per transaksi. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 22%. "Pajak rendah ini akan menarik minat investor domestik dan asing," ujar Adri. Ia menambahkan, proses KYC (Know Your Customer) yang ketat di negara lain, seperti Dubai, justru menjadi hambatan bagi investor asing.
Direktur Keuangan COIN, Abraham Nawawi, optimistis pendapatan COIN akan meningkat berkat kontribusi anak usaha, CFX dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC). CFX menyumbang 60% dari total pendapatan COIN tahun 2024 (Rp 101 miliar), berasal dari biaya transaksi spot dan derivatif. Ke depannya, CFX diproyeksikan tetap menjadi kontributor utama, disusul ICC.
Pertumbuhan COIN tahun 2025 didorong oleh peningkatan transaksi spot sejak peralihan izin menjadi Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) pada Agustus 2024. Namun, volatilitas harga kripto global tetap menjadi faktor risiko. Sebagai antisipasi, COIN meluncurkan produk derivatif akhir 2024 yang berfungsi sebagai lindung nilai, sehingga tetap menghasilkan pendapatan meski harga spot turun. "Volume transaksi derivatif bisa 3-5 kali lipat transaksi spot," pungkas Nawawi.
Editor: Rohman




Tinggalkan komentar